‘Bilang Begini Maksudnya Begitu’: Sebuah Apresiasi Puisi

small_85bilangbeginimaksudnyabegitucoverbaruBagi sebagian besar orang, puisi (atau sajak) barangkali telah kita kenal (atau setidaknya dengan mendengar) sejak pertama kali kita mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi antar-manusia. Teruntuk masyarakat Indonesia, pantun mungkin merupakan bentuk puisi yang pertama kali kita kenal dan sering kita dengar di berbagai kesempatan.

Tak heran, karena pantun merupakan bentuk puisi lisan yang dikenal di hampir seluruh wilayah Nusantara, terlebih yang berakar latar budaya Melayu. Ketenaran pantun sebagai bentuk puisi juga tak lepas dari format rapi yang membuatnya mudah diingat. Terdiri atas empat larik dengan dua larik awal berupa sampiran pendahuluan yang bersifat menarik perhatian serta dua larik selanjutnya yang mengandung inti pantun yang biasanya menyampaikan suatu nasihat atau petuah.

Seiring dengan beranjaknya usia, kita pun mulai mengenal beragam jenis bentuk puisi lain. Puisi lama atau kuno yang umumnya berformat baku seperti syair, pantun, gurindam, seloka, dan mantera hingga puisi kontemporer yang tidak melulu terpaku pada format dengan gaya penulisan dan tema yang begitu beragam.

Kita pun mulai menikmati lirik-lirik puitis yang digubah menjadi sebuah lagu dan bahkan menikmati puisi dalam bentuknya yang ‘sejati’ melalui deklamasi pada teater, opera, hingga film layar lebar. Tentu dengan keadaan demikian, secara umum dapat kita katakan bahwa kehidupan kita sehari-hari sebenarnya telah cukup familiar dengan bentuk karya sastra ini dan bahkan menikmati setiap kalimat puitik tanpa kita menyadarinya.

Namun barangkali kebanyakan dari kita masih sebatas ‘menikmati’ karya puisi dan tidak menggalinya lebih jauh untuk memahami makna dan menginterpretasikannya agar puisi tersebut menjadi relevan dengan kehidupan kita. Tentu tak ada yang salah apabila kita hanya sekedar ‘menikmati’ sepotong puisi, tetapi sangat disayangkan apabila kita tidak menghargai karya tersebut lebih jauh atau dengan kata lain: mengapresiasinya.

Apresiasi, lebih dari sekedar menikmati atau mengagumi suatu karya puisi. Tetapi lebih dari itu mencoba untuk mendalami serta memahami makna terselubung dari setiap kata yang menguntai pada suatu sajak.

Dalam buku terbarunya ‘Bilang Begini Maksudnya Begitu‘, Sapardi Djoko Damono (SDD) mengajak publik untuk dapat mengapresiasi bermacam bentuk puisi atau sajak yang seringkali memang bersifat bilang begini maksudnya begitu. Pengalaman SDD sebagai seorang penyair sekaligus eseis, kritikus, dan guru besar sastra seakan menjadi jaminan akan pemaknaan puisi yang menyeluruh dalam mengulas makna di balik setiap kata dan bait pada sajak-sajak.

Pada buku ringan ini, SDD mengulas struktur dan pemaknaan puisi secara teliti. Mulai dari format, bentuk visual, bunyi, penggunaan kata: kata benda, kata sifat, kata keterangan latar, karakter/penokohan, nuansa yang hendak dibangun, hingga tema dan asal-muasal kisah yang diulas dalam sajak tersebut. Sajak-sajak yang diulas SDD pada buku ini berasal dari beragam generasi dan latar belakang budaya. Mulai dari puisi penyair Brazil, puisi kuno penyair Tiongkok, hingga puisi-puisi Nusantara yang dapat dipilah-pilah ke berbagai fase: mulai dari bentuk gurindam karya Raja Ali Haji, sajak Pujangga Lama Amir Hamzah, soneta Chairil Anwar di era Kemerdekaan, puisi-prosa-drama Rendra, sajak bebas Goenawan Mohamad, hingga puisi jenaka Joko Pinurbo.

Berbagai macam tema puisi juga dibahas pada buku ini, mulai dari tema cinta yang universal, kehidupan antar-insan, keimanan dan hubungan vertikal dengan Tuhan, hingga adaptasi dan interpretasi segar atas dongeng yang telah dikenal masyarakat Indonesia, seperti epik Mahabarata dan Ramayana.

Dengan gaya bahasa yang lugas dan sederhana, SDD juga membahas berbagai aspek penting dalam usaha mengapresiasi karya sastra puisi seperti latar belakang sejarah dan budaya, penafsiran logis atas maksud penyair dalam menggunakan kata tertentu untuk membangun suasana, hingga perbandingan dengan karya puisi lainnya yang relevan. Pemaparan Sapardi yang mengalir lancar dan terkesan tidak merumitkan membuat buku ini relevan bagi siapa saja yang ingin mengapresiasi karya puisi.

Secara garis besar, buku ini telah berhasil menyajikan aspek-aspek yang perlu ditelusuri lebih lanjut dalam membaca, memahami, dan memaknai karya puisi. SDD juga memberikan pengetahuan yang lebih kepada para pembaca akan suatu sajak serta pemahaman bahwa suatu kata dapat kembali ke makna seutuhnya dan fungsi yang sebenarnya melalui puisi. Usaha ini tentu dapat menimbulkan hasil yang positif bagi apresiasi karya puisi yang selanjutnya dapat menumbuhkan budaya cinta dan menghargai karya sastra pada masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s