‘Melipat Jarak’: 75 Tahun Sapardi Djoko Damono

27245885Sapardi Djoko Damono, seorang penyair pendiam bertubuh kurus kenamaan Indonesia, pada tahun 2016 ini merayakan ulang tahun kelahirannya yang ke-75 tahun. Di usia platina yang tentu tak dapat lagi digolongkan sebagai usia muda itu, nyatanya tak menghalangi kelincahannya dalam berkiprah di gelanggang seni dan kesusastraan.

Dan dalam rangka menandai 75 tahun lahirnya salah satu penyair yang aktif mewarnai khasanah sastra Nusantara ini, sebuah buku kumpulan sepilihan sajak karya SDD pun diterbitkan. 75 juga menjadi angka keramat. Sebanyak 75 karya puisi SDD dipilih editor Hasif Amini dan Sapardi sendiri untuk dimuat di kumpulan ini. Salah satu judul sajak, ‘Melipat Jarak’, menjadi tajuk sepilihan sajak ini.

Melipat Jarak terdiri atas sajak-sajak karya SDD yang pernah diterbitkan di antara tahun 1998-2015, yang antara lain pernah muncul pada buku-buku puisi Arloji, Ayat-Ayat Api, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, serta Babad Batu.

Jika dibandingkan dengan kumpulan sepilihan sajak terdahulu Hujan Bulan Juni, terkesan bahwa Melipat Jarak dapat menjadi komplementer, kumpulan yang dapat melengkapi sepilihan karya SDD sebelumnya sehingga dapat menghasilkan gambaran yang utuh atas karakter dan riwayat kepenyairan Sapardi Djoko Damono.

Hujan Bulan Juni, yang terbit pertama kali pada 1994, terdiri atas sajak-sajak pilihan karya SDD antara 1959-1994, atau dengan kata lain disusun dari sajak-sajak di awal kepenyairannya hingga akhirnya mapan sebagai seorang pujangga. Di lain pihak, Melipat Jarak yang lebih terkinin menyajikan dunia puisi SDD sebagai penyair yang semakin matang dan kaya akan pengalaman.

Pun dari segi konten dan bentuk, kedua kumpulan juga menyajikan dua dunia yang seakan berbeda meski berasal dari penyair yang sama. Apabila Hujan Bulan Juni lebih sering menampilkan bentuk kuatrin dan sonet yang rapi dan formal, Melipat Jarak justru lebih didominasi bentuk bebas dimana bertebaran monolog-dialog puitis bak drama (yang cukup mengingatkan kita akan skenario drama klasik karya William Shakespeare) maupun prosa-puisi berbait panjang, meski masih terdapat bentuk sonet khas SDD. Tema cinta universal yang melambungkan sajak Hujan Bulan Juni menjadi salah satu sajak favorit dan terpopuler di Indonesia juga masih tampak pada kumpulan Melipat Jarak. Meskipun tema yang lebih menonjol berada di seputar peristiwa aktual, kritik sosial, maupun kehidupan manusia lebih luas.

Sarat Kritik Sosial dan Sindiran

Salah satu sajak yang kuat menonjolkan sisi kehidupan manusia dan sebuah kritik atas keadaan sosial adalah Dongeng Marsinah. Marsinah, yang dikisahkan sebagai seorang buruh pabrik arloji, mewakili kisah ketidakadilan dan penderitaan demi melanjutkan hidup.

Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,

sekedar hidup layak,
sebutir nasi.”

Seakan penderitaannya belum tuntas, Marsinah masih harus menghadapi konflik lain yang membuat ‘kepalanya ditetak, selangkangnya diacak-acak, dan tubuhnya dibirulebamkan dengan besi batangan‘ hingga pada akhirnya, ‘detik pun tergeletak, Marsinah pun abadi.‘ Di akhir episode sajak, penyair mengajak pembaca untuk turut mengenang Marsinah, atau siapapun mereka yang menjadi korban atas kekejaman kaumnya sendiri dalam sebuah kuatrin berima syair yang memikat.

Kita tatap wajahnya
setiap pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Beberapa sajak lain juga mengandung nada sindiran atas keadaan dan perilaku manusia secara umum. Ambil contoh sajak Tentang Mahasiswa Yang Mati, 1996. Seorang pembaca koran yang hidup normal tiba-tiba merasa simpati terhadap seorang mahasiswa yang tak pernah dikenalnya, yang berita kematiannya tersiar di koran.

Dan tiba-tiba saja, begitu saja, hari itu ia mati
begitu berita yang ada di koran pagi ini-

entah kenapa aku mencintainya
karena itu.

Ironis, setelah rasa simpatinya muncul menggelegak karena berita itu, tak lama kemudian ia sudah tak peduli akan identitas mahasiswa yang mati itu.

Siapa namanya, mungkin disebut di koran,
tapi aku tak ingat lagi,
dan mungkin juga tak perlu peduli.

Tak perlu dipungkiri, keadaan serupa ini memang tak jarang ditemui di masyarakat. Membajirnya informasi mengenai kriminalitas yang mengekspos korban kejahatan selalu membuat kita simpatik, namun seringkali hal itu hanya sebatas perasaan tanpa tindakan lebih lanjut untuk menunjukkan kepedulian antar-sesama.

Menyuarakan Pergolakan Pemikiran

Sebagian sajak pada kumpulan ini mengedepankan pola pikir penyair, yang sebagai insan pada umumnya, juga mengalami pergolakan batin, kecemasan akan hadirnya masa-masa saat diri menjadi lemah, serta kekhawatiran akan datangnya hari-depan dan kematian.

Coba tengok sebuah kuatrin dari sajak Terbaring berikut.

Kalau aku terbaring sakit seperti ini
suka kubayangkan ada selembar daun tua
kena angin dan lepas dari tangkainya
melayang ke sana ke mari tanpa tenaga

Sementara kecemasan akan datangnya ajal dan perpisahan dengan seorang yang dikasihi secara lebih metaforik ditampilkan pada kuatrin pertama pada sajak Garis berikut.

menyayat garis-garis hitam
atas warna keemasan; di musim apa
Kita mesti berpisah tanpa
membungkukkan selamat jalan?

Sajak-sajak ini tanpa kita sadari terasa begitu dekat dan lekat dengan kehidupan kita sebagai manusia yang tentu mengenal rasa sakit, ketakberdayaan, dan kepergian ke alam berikutnya.

Interpretasi Segar Atas Cerita Rakyat

Salah satu jenis tema puisi yang paling menarik bagi saya pada kumpulan ini ialah sajak yang mengambil tema interpretasi penyair atas cerita rakyat, folklore, legenda yang telah dikenal luas oleh masyarakat Nusantara. Ambil contoh sajak Malin Kundang yang ditujukan (atau mengenai) seorang bernama GM (yang besar kemungkinan adalah Goenawan Mohamad, rekan SDD sesama penyair, yang pernah menerbitkan kumpulan esai bertajuk Potret Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang).

Pada sajak ini, tokoh Malin Kundang yang sudah kondang dikenal sebagai si anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya, dikisahkan ulang menjadi sama sekali berbeda. Si Malin pada sajak ini adalah pribadi yang sepenuhnya sadar akan ‘takdir’ kutukan itu, yang telah bermantap hati untuk mengunjungi suatu pantai pinggir laut demi menjalani kutukan.

Sejak semalam tak henti-hentinya aku batuk
padahal harus ke darat hari ini
untuk memenuhi kutuk itu.

Si Malin, yang tengah dalam batuknya itu (karakter yang semakin mengingatkan kita akan Goenawan Mohamad, yang memang gemar merokok) kemudian mendarat untuk menemui seorang Ibu tua yang ia bayangkan akan menyambutnya dalam kerinduan, meski Malin menyadari:”tapi aku toh harus dikutuknya.

Sebuah interpretasi folklore lain yang lebih memikat dapat dijumpai pada sajak Sita, sebuah cukilan puisi drama Namaku Sita yang terbit pada 2012 silam. Pada sajak yang mengisahkan salah satu episode dari kitab kuno Ramayana ini, Sita (atau yang juga kita kenal sebagai Dewi Shinta), bukanlah seorang wanita yang dengan pasrah melangkah ke dalam api demi membuktikan kesuciannya kepada calon suaminya, Rama, setelah disekap oleh raja raksasa Rahwana di Alengka.

Sita yang ditampilkan pada interpretasi ini digambarkan penuh intrik dan muslihat, penuh pemberontakan meski hanya dalam hati, seperti yang tampak pada bagian awal sajak.

Kusaksikan Rama menundukkan kepala
ketika aku berjalan mengitarinya
sebelum terjun ke api
yang disiapkan Laksmana –
aku yang memerintahkannya
agar bergetar sinar mata
si pencemburu itu
menyaksikan permainanku.

Meski tetap menjalani prosesi pembuktian kesucian itu, tampak Sita memang telah memahami keadaan dirinya dan hakikat upacara itu, yang pada akhirnya, berkat Agni Sang Dewa Api memilih untuk tidak melumat tubuh Sita dengan api ritual yang berkobar itu. Namun tentu, pergolakan batinnya ini tak pernah dikisahkan di kitab dan babad manapun, karena “ada yang lebih berhak, dan lebih bijaksana menyusun cerita, ternyata.” Sebuah kenyataan pahit yang membuatnya menyesali mengapa dirinya tak dimusnahkan saja ketika melangkah masuk ke dalam kobaran api.

Ah, Batara
yang berkuasa atas api
mengapa tak kaubiarkan saja
aku menyatu denganmu?

Puisi yang Bercerita

Saya rasa kita sebagai pembaca puisi yang awam dapat menyetujui satu hal: puisi yang baik adalah puisi yang bercerita. Puisi yang baik seharusnya bukan hanya ledakan pikiran dan rasa pembuat sajak, tetapi juga mampu mengisahkan sesuatu, mengundang interpretasi lebih lanjut, dan memancing pembaca untuk dapat menerjemahkan kembali sajak tersebut agar menjadi relevan dan menjadi bagian dirinya. Kualitas-kualitas ini pada akhirnya menjadikan sajak-sajak yang baik itu ‘abadi’ karena dapat selalu memunculkan interpretasi yang baru.

Bagi saya pribadi, kumpulan sajak Melipat Jarak ini bukan hanya sekedar sepilihan sajak semata, tetapi merupakan sajak-sajak SDD terbaik selama hampir dua dekade terakhir yang mampu menerbitkan perasaan-perasaan saat membaca puisi yang baik tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s