‘Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon’ – Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2014

25864095Cerita pendek (cerpen) memang amat dibatasi oleh jumlah huruf, kata, maupun kalimat jika dibandingkan dengan bentuk prosa lainnya. Namun hal ini tak lantas membuat cerpen menjadi berkurang nilai sastranya. Justru sebaliknya, dengan terbatasnya ruang penulisan untuk cerpen, para pengarang dituntut untuk dapat menyiasati ruang serba terbatas itu dengan menyusun alur yang tepat, membangun cerita sekaligus mengembangkan penokohan, serta menghilangkan ornamen-ornamen bahasa yang tidak diperlukan tetapi tanpa menghilangkan estetika yang khas dari karya sastra. Hal ini pula yang tampak pada setiap terbitan kumpulan cerita pendek terbaik yang pernah dimuat di harian nasional Indonesia, Kompas.

Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2014 yang bertajuk ‘Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon’ ini berisi 24 cerita pendek terbaik sepanjang tahun 2014, suatu jumlah terbesar yang dimuat dalam sejarah penerbitan cerpen pilihan Kompas. Kumpulan ini begitu majemuk, terdiri atas beragam genre dengan berbagai topik permasalahan seputar pemikiran dan kehidupan manusia yang dikarang oleh penulis lintas generasi. Penulis-penulis cerita yang telah mapan masih mendominasi kumpulan ini semisal Putu Wijaya, Sapardi Djoko Damono, Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, Triyanto Triwikromo, hingga Joko Pinurbo, di samping memuat sejumlah karya dari pengarang muda seperti Faisal Oddang, Anggun Prameswari, dan Zaidi Noor.

Meski sekilas terlihat begitu beranekaragam, nyatanya setiap narasi pada kumpulan ini secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam tiga tema dan topik permasalahan utama. Tema pertama berkaitan erat dengan hubungan antara manusia dengan alam dan budaya Indonesia lengkap dengan penelusuran atas fenomena magis dan spiritual. Tema kedua memuat narasi yang terkesan surrealistik bertabur metafora dan analogi. Sedangkan tema ketiga berkutat di seputar pendekatan filosofis atas kehidupan sehari-hari manusia, tentang konflik, tentang keluarga, tentang pemikiran yang abstrak, tentang kenangan dan relasi antar-insan.

Nuansa alam-budaya Indonesia pada narasi

Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar dengan keanekaragaman alam dan suku bangsa dimana masing-masing memiliki kearifan lokal yang berhubungan dengan alam maupun mitos dan legenda tersendiri yang berkaitan dengan tradisi. Kekayaan alam dan budaya ini telah lama dijadikan sebagai sumber utama cerita para pengarang Indonesia sejak lama dan tampaknya akan tetap seperti itu di kemudian hari.

Eksplorasi atas sisi magis dari suatu adat budaya sangat terlihat pada narasi yang terpilih sebagai cerpen terbaik pada kumpulan ini, ‘Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon’. Cerpen karya Faisal Oddang ini telah berhasil menawarkan sudut pandang baru atas budaya Passiliran suku Toraja, yaitu pemakaman bayi-bayi yang belum tumbuh giginya di sebuah pohon besar tarra. Hal yang membuat cerita ini semakin kuat dan mendobrak adalah karena narasi dibawakan oleh arwah para bayi yang telah meninggal itu di dalam sebuah pohon tarra yang mereka anggap sebagai Indo (induk;ibu).

“Di Passiliran ini, kendati begitu ringkih, tubuh Indo tidak pernah menolak memeluk anak-anaknya. Di sini, di dalam tubuhnya- bertahun-tahun kami menyusu getah. Menghela usia yang tak lama. Perlahan membiarkan tubuh kami lumat oleh waktu- menyatu dengan tubuh Indo. Lalu kami akan berganti menjadi ibu-makam bagi bayi-bayi yang meninggal di Toraja. Bayi yang belum tumbuh giginya. Sebelum akhirnya kami ke surga.” – ‘Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon (Faisal Oddang)

Kisah yang begitu terasa nuansa mistisnya ini juga diperkaya akan konflik manusia akibat adat-budaya serta pemaknaan status sosial. Dalam ruang sempit ini, sang penulis telah memberikan pemaknaan kembali atas kehadiran adat-istiadat dan struktur sosial dalam kehidupan manusia.

Cerpen Terbaik Kompas

Faisal Oddang saat menerima penghargaan Cerpen Terbaik Kompas 2014

Harmonisme antara manusia dengan alam juga sangat tampak pada cerita ‘Harimau Belang’ karya Guntur Alam dan ‘Beras Genggam’ karya Gus tf Sakai. Pada ‘Harimau Belang’ begitu tergambar secara eksplisit maupun simbolik keserakahan manusia dalam memenuhi aspek kehidupannya hingga berujung pada konflik dengan alam, yang diwakili oleh harimau yang mulai menyerbu ternak dan bahkan anak-anak desa. Narasi ini dapat dipandang sebagai sebuah kritik koreksi diri dan pengingat bahwa manusia merupakan bagian dari alam itu sendiri dan tidak lebih superior daripadanya.

Sebaliknya, pada ‘Beras Genggam’, peribahasa ‘alam terkembang jadi guru’ begitu terasa gaungnya. Kearifan lokal yang tercermin dari pamali, pantangan, dan adat-kebiasaan yang seringkali dianggap tak masuk akal nyatanya dapat dijelaskan secara logis. Kramat Ako (Kramat: orang sakti, Ako: akal), seorang lulusan pendidikan tinggi, yang meski bukan penduduk asli kampung dapat menjelaskan berbagai adat pantangan melalui kacamata logika.

Beberapa di antaranya adalah pantangan menebang pohon di Bukik Coro, dimana dipercayai penduduk akan membuat iblis-iblis hutan Coro akan marah. Namun Kramat Ako dapat menjelaskan bahwa tanah pada bukit tersebut merupakan jenis tanah yang mudah terkikis air, sehingga apabila pohon ditebang akan menyebabkan longsor akibat tidak ada lagi yang menahan tanah itu. Begitupun dengan larangan menggunakan traktor modern untuk mengolah sawah, dapat dijelaskan oleh Kramat Ako bahwa tanah di kampung tersebut termasuk jenis tanah bok (gambut) sehingga apabila digali terlalu dalam dengan traktor akan membuat tanah semakin asam dan sulit ditanami. Demikian pula dengan pantangan membuat golek api (api unggun) pada ladang yang dapat membuat api sulit dipadamkan akibat menjalarnya api di dalam tanah gambut yang mudah terbakar.

‘Beras Genggam’ merupakan cerita yang menggugah rasa ingin tahu serta logika terhadap adat tradisi yang seringkali diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat mistis dan takhayul. Cerpen ini juga berhasil menyajikan suatu pandangan akan cara yang ditempuh manusia agar dapat tetap hidup harmonis dengan alam.

Berbeda dari cerpen ‘Beras Genggam’ yang mencoba menghadirkan logika pada aspek adat istiadat, cerita ‘Bulu Bariyaban‘, ‘Garong’, dan ‘Menunda-nunda Mati’ masing-masing karya Zaidi Noor, Indra Tranggano, dan Gde Aryantha Soethama lebih menelusuri sisi spiritual dan magis dari budaya Indonesia ketimbang sisi logis. Pada narasi-narasi ini tampak begitu kental nuansa mistis budaya Indonesia yang masih mengenal dunia magis sihir serta keterkaitannya dengan kehidupan sosial manusia.

Eksplorasi surealisme pengarang Indonesia

Perlu diakui bahwa cerita yang mengusung tema surealistik masih cukup jarang dibawakan oleh para pengarang Indonesia apalagi hingga mencapai taraf popularitas yang dicapai karya sastra lainnya yang bertema realisme. Namun Kumpulan Cerpen Kompas dapat dijadikan pengecualian. Hampir di setiap kumpulan cerpen pilihan yang diterbitkan, karya bertema surealisme yang bertabur metafora selalu disertakan. Tak terkecuali pada kumpulan terbaik tahun 2014 ini.

Salah satu yang paling menonjol nuansa surealistis dan realisme magisnya adalah cerpen karya Anggun Prameswari ‘Wanita dan Semut-Semut di Kepalanya’ yang mengisahkan keadaan psikologis seorang wanita yang merasa terdapat banyak semut-semut yang merubungi kepalanya setiap malam yang hendak memakan otaknya. Hingga akhirnya ia ditemukan tewas akibat menenggak racun serangga demi membunuh semut-semut yang menerornya itu. Cerita ini bisa jadi metaforistis, namun keadaan psikologis karakter cerita memang terkadang sangat cocok dinarasikan dengan gaya surealistik.

Lain lagi pada ‘Lima Cerpen Sapardi’. Pada lima cerita ‘sangat-pendek’ ini, Sapardi Djoko Damono mengeksplorasi spiritualisme, religiositas, maupun kehidupan manusia sehari-hari yang terkadang luput dari pandangan kita. Kelima cerpen ini menghadirkan suatu penelusuran menarik yang memancing logika namun tetap terasa segar karena ditulis dengan gaya yang jenaka. Salah satu eksplorasi menarik dapat dilihat pada kisah ‘Wartawan itu Menunggu Pengadilan Terakhir’ yang menceritakan seorang wartawan yang telah mati dan tengah menunggu “pengadilan terakhir”. Nalurinya sebagai wartawan membuatnya ingin melakukan sebuah investigasi terhadap “Kakek-Nenek” manusia, yang tak lain adalah Adam dan Hawa. Namun si wartawan semakin bimbang dan ragu untuk meneruskan investigasi karena saat menghampiri sang “Kakek”, si wartawan tengah melihatnya sedang menikmati buah khuldi.

Pendekatan filosofis atas suatu peristiwa

Peristiwa yang seringkali kita alami, betapapun terlihat sederhana, baik kita sadari maupun tidak ternyata memang memiliki kompleksitas tersendiri tergantung akan cara pandang kita terhadap peristiwa tersebut. Cara pandang itu pula yang kemudian dapat mengubah secara drastis pemikiran kita akan peristiwa itu. Hal ini pula yang juga menjadi dasar seorang pengarang dalam menelurkan suatu karya sastra dan tampak pada kumpulan cerpen Kompas ini.

Beberapa cerita yang menggunakan pendekatan tersebut antara lain ‘Matinya Seorang Demonstran’ karya Agus Noor, ‘Angela’ karangan Budi Darma, ‘Neka’ gubahan Eep Saefulloh Fatah, ‘Kaing-Kaing Anjing Terlilit Jaring’ karya Parakitri T. Simbolon, ‘Protes’ karangan Putu Wijaya, serta ‘Jalan Asu’ yang ditulis Joko Pinurbo.

Di antara sekian kisah tersebut, ‘Kaing-Kaing Anjing Terlilit Jaring’ merupakan cerita yang paling saya ingat, justru karena kesederhanaan cerita maupun gaya bahasanya. Pada cerpen dengan judul yang berima ini, narator adalah seorang bapak di usia senja mengeluhkan kaing-kaing seekor anjing kampung yang terlilit jaring gawang sepakbola dekat rumahnya. Lolongannya itu tinggi melengking dan cukup mengganggu kehidupan ia dan keluarganya, ia pun berinisiatif untuk membebaskan anjing itu dari lilitan agar lingkungannya kembali tenang seperti sedia kala.

Tetapi sebelum pergi membebaskan anjing itu, berbagai prasangka dan kekhawatiran telah berkelebat di pikiran si narator. Mulai dari praduga bahwa anjing tersebut merupakan salah satu anjing milik tetangganya, anjing itu sengaja diikat dan dibiarkan, hingga menduga anjing tersebut terkena rabies dan menjadi anjing gila karena tetap menggonggong ganas meski ia telah berbaik hati membawakan makanan.

Namun akhirnya segala syak wasangka itu langsung sirna begitu seorang tetangga yang sebelumnya ia curigai sebagai pemilik anjing tersebut dan diejeknya dalam hati, tanpa ragu membabat jaring yang menjerat sehingga anjing itu bebas. Dalam hati ia merasa diri begitu bodoh sekaligus mengagumi tetangganya itu, yang tanpa prasangka apapun langsung menolong si anjing yang terlilit jaring, yang memang hanya membutuhkan kebebasan dan tidak memerlukan makanan ataupun sekedar rasa kasihan.

“Alangkah sombong, alangkah bodoh saya berpikir lebih dulu menyodorkan makanan dan minuman, padahal satu-satunya yang diperlukan anjing itu adalah kebebasan!” – ‘Kaing-Kaing Anjing Terlilit Jaring’ (Parakitri T. Simbolon)

Kumpulan Cerpen Kompas – Sebuah Upaya Konsisten Mendekatkan Sastra

Cerpen Kompas, dengan konsistensinya untuk menyiarkan setidaknya satu cerita pendek (dan atau beberapa puisi) karya pengarang Indonesia pada edisi Minggu serta membukukan cerpen terbaik setiap tahun, sedikit banyak merupakan salah satu contoh nyata bahwa sastra tetap mendapatkan tempat di masyarakat Indonesia. Kemajemukan tema, genre, dan gaya bahasa, serta keragaman penulis berbagai generasi dan latar belakang telah menjadikan Kumpulan Cerpen Kompas selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat sastra di Indonesia serta menjadi cerminan bagi keadaan sastra itu sendiri di tanah-air bumi pertiwi. Semoga Kompas dapat terus konsisten menggawangi upaya mendekatkan sastra kepada masyarakat Indonesia secara luas.

Ulasan ini merupakan bagian dari:

Tantangan Baca: Kumpulan Cerpen “Kompas”

Advertisements

6 thoughts on “‘Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon’ – Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2014

  1. Faisal Oddang masih muda sekali ya? Jadi merasa minder, selama ini aku ngapain ya dengan hidupku? Hahaha.

    Aku mau bilang: ini overview yang lengkap, jelas, dan padat terhadap Kumcer Kompas 2014, sekaligus overview yang baik tentang misi Cerpen-Cerpen Kompas. Fakta bahwa setiap minggu mereka menerbitkan cerpen sastra menunjukkan bahwa sastra masih ada tempat di masyarakat Indonesia, walaupun kita sering didera fakta lain bahwa orang Indonesia nomor dua paling malas membaca di dunia.

    Aku ketinggalan baca Kumcer Kompas. Versi 2013 saya belum terbaca, mudah-mudahan Kumcer Kompas 2013 setidaknya bisa dibaca tahun ini.

    Liked by 1 person

  2. Faisal Oddang lahir tahun 1993, dan fakta bahwa dia ‘mengalahkan’ sastrawan-sastrawan senior di kumpulan cerpen ini makin bikin kita minder.. 🙂

    Setuju. Minat baca kita memang masih rendah. Tidak semua masyarakat Indonesia menganggap buku dan membaca sebagai kebutuhan. Kalau kata Goenawan Mohamad dalam salah satu esainya ‘Pledoi Buat Sebuah Kesusastraan Yang Terpencil’, sastra Indonesia memang akan selamanya menjadi kesusastraan minoritas, karena sejarah awal-mula dan karena sifat dasarnya sendiri yang memang eksklusif.

    Semoga bisa dibaca tahun ini. Menariknya baca cerpen juga karena bisa dijadikan selingan membaca karya sastra lainnya 🙂

    Liked by 1 person

  3. Hmm, menarik juga pendapat Goenawan Mohamad. Reaksi defensifku mengatakan: “masa sih tidak bisa diubah kebiasaan dan budaya baca orang Indonesia? Kok terkesan absolut sekali opininya?” Tapi yah, kalau belum baca esainya lebih baik jangan komentar dulu, hehehe 😛 Harus baca dulu dan lihat argumen-argumennya.

    Kadang aku malah merasa lebih suka cerpen daripada novel, hahaha. Tapi lucunya tahun ini aku baru baca 3 cerpen.

    Like

  4. Kalau budaya baca secara umum, reaksi pertama kita yg wajar, seharusnya itu bisa diubah apalagi dengan tingkat literasi masyarakat Indonesia yang semakin tinggi. Tetapi untuk masalah kesusastraan bisa jadi berbeda.

    Esai GM itu ditulis sekitar tahun 1970-an. Premisnya sederhana saja: sastrawan-penyair Indonesia hampir tidak pernah menjangkau mayoritas masyarakat pedesaan. Secara historis budaya membaca sastra memang hanya ada di masyarakat perkotaan, itupun segelintir. Tetapi betul juga, mungkin saja esai itu hanya memotret keadaan saat itu dan lebih bernada ‘pesimistis’ ketimbang optimis bahwa sastra Indonesia mendapat tempat yang lebih luas di masyarakat.

    Hehe, cerpen memang menarik. Karena ruang berceritanya sempit, justru pengarang diharuskan kreatif mengolah keterbatasan itu menjadi kekuatan.

    Sudah baca cerpen apa aja?

    Like

  5. Aku baca tiga cerpennya Charlotte Perkins Gilman: “The Yellow Wall-Paper,” “The Rocking Chair,” dan “Old Water.” “The Yellow Wall-Paper” adalah karya Gilman yang paling terkenal karena merupakan campuran horor, feminism, dan diskusi kesehatan mental — padahal diterbitkan tahun 1899 kalau tak salah.

    “The Rocking Chair” OK saja, tidak spesial. “Old Water” agak menarik karena menurutku moralnya ambigu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s