‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ (Eka Kurniawan)

28115778Judul yang cukup bombastis, misterius dan mengundang tanya, sekaligus bernada melankolis bagi sebuah novel. Nyatanya, judul tersebut bagaikan umpan berkilau yang diperebutkan ikan-ikan di laut, karena ternyata isi cerita sama sekali berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya terhadap judul tersebut. Berbeda seratus delapan puluh derajat, kisah yang terpampang dalam buku ini dituturkan dengan sangat brutal, vulgar, dan mungkin akan mengundang emosi beberapa pihak, hingga pantas saja penerbit memberi label batasan usia 21+ pada novel ini. Namun kata-kata vulgar pada novel ini terkesan bukan merupakan ornamen hiasan semata atau hanya untuk terkesan menampilkan bahwa si penulis ‘berani’ mendobrak tabu, tetapi memang diletakkan sesuai konteks sehingga terasa apabila kata-kata demikian tidak digunakan, maka makna kalimat menjadi berkurang dan tidak terasa dampaknya terhadap pembaca.

Menggunakan alur maju-mundur (flashback and flash-forward) seperti yang pernah ditampilkannya pada novelnya terdahulu ‘Lelaki Harimau’, Eka Kurniawan mengisahkan kehidupan seorang pemuda brutal bernama Ajo Kawir yang hampir di setiap kesempatan selalu mencari onar dan kerusuhan dengan pemuda lain di kampungnya. Hingga akhirnya tersibak pula bahwa perangan demikian diperolehnya akibat suatu peristiwa ganjil saat ia masih bocah.

Latar belakang ini sedikit diulas pada bagian belakang sampul buku ini. Ajo Kawir bersama kawannya yang juga bengal bernama Tokek tengah mengintip seorang janda gila di rumahnya. Tanpa sebelumnya mereka pahami, ternyata di rumah itu ada dua orang polisi yang tengah ‘bermain’ dengan janda tersebut dan memerkosanya secara bergilir. Ajo Kawir yang begitu terkejut dan ingin menghindari pemandangan yang memualkannya itu malah terpergok oleh salah seorang polisi. Polisi tersebut kemudian memaksa Ajo Kawir untuk turut merasakan ‘kenikmatan’ itu. Reaksi yang mengejutkan justru terjadi. Kemaluan Ajo Kawir justru menciut dan tidak pernah dapat ereksi lagi di kemudian hari dan bahkan hingga ke usia remaja dan dewasanya. Kenyataan bahwa dirinya tidak dapat ereksi lagi itulah yang membuat sumbu emosi Ajo Kawir begitu pendek dengan karakter yang dipenuhi amarah meluap-luap dan nekat.

Dari segi alur, cerita berlanjut secara sederhana dan jauh dari kesan rumit. Kenekatan dan kesenangannya akan berkelahi membuat Ajo Kawir direkrut oleh seorang mafia (atau setidaknya dapat disebut demikian) untuk menyingkirkan musuh-musuhnya tanpa bekas dan tanpa jejak. Di tengah-tengah menjalani profesi barunya itulah ia bertemu dengan Iteung, seorang wanita pengawal yang di luar dugaan mampu menyamai kemampuan berkelahi Ajo Kawir. Setelah perkelahian sengit dengan hasil seri, mereka berdua mulai memendam rasa suka yang kemudian berlanjut hingga pernikahan.

Setelah melakukan pembunuhan tak berarti dan mengalami pengkhianatan oleh istrinya sendiri, Ajo Kawir berubah drastis dengan mencoba mencari kedamaian hidupnya yang terilhami dari ‘burungnya yang selalu tidur dalam damai’. Namun justru karena kepasrahan dan kedamaian hati yang ia coba cari itu, ia kembali mendapati ‘burungnya’ dapat kembali berdiri dengan cara yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Gaya bahasa pada novel ini memang begitu brutal dan provokatif dengan penceritaan yang dinamis dan bertempo cepat layaknya sebuah serial silat. Nuansa magical realism dengan bumbu dark comedy juga begitu kental terasa. Namun melalui medium sedemikian rupa, pengarang dengan piawai mampu menyisipkan sebuah alegori bahwa tujuan seringkali dicapai bukan dengan menggunakan kekerasan atau melalui rasa sakit, tetapi lewat kedamaian yang diciptakan oleh diri sendiri.

Ulasan ini merupakan bagian dari:

Indonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

One thought on “‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’ (Eka Kurniawan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s