‘Mengenang Hidup Orang Lain’ (Ajip Rosidi): Sejumlah Obituari

7794537Obituari sebagai warta bagi meninggalnya seseorang ternyata tidak hanya dengan dingin mengabarkan kepergian pribadi tersebut, namun lebih dari itu obituari dapat dijadikan wadah untuk mengenang karya-karya dan kontribusi almarhum di lapangan kehidupan. Hal ini pula yang dilakukan oleh Ajip Rosidi yang telah menulis sejumlah obituari selama beberapa puluh tahun terakhir yang kini dirangkum ke dalam sebuah buku ‘Mengenang Hidup Orang Lain’ (Penerbit KPG, 2010).

Obituari yang terangkum dalam buku ini memang ditujukan bagi tokoh-tokoh kenamaan yang telah meninggalkan kita terlebih dahulu dan memang masih berhubungan erat dengan lapangan karya Ajip Rosidi yaitu seputar kesusastraan dan seni-budaya. Beberapa di antaranya kita kenal sebagai penulis dan sastrawan baik dari dalam negeri maupun internasional, jurnalis, pelukis, pegiat seni-budaya, hingga budayawan dan tokoh masyarakat Sunda, yang juga merupakan suku asal Ajip Rosidi.

Beberapa obituari di antaranya ditujukan untuk Pramoedya Ananta Toer, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Ramadhan KH, Utuy Tatang Sontani, Armijn Pane, Mohammad Diponegoro, dan JE Tatengkeng dari kalangan sastrawan. Ada pula catatan untuk mengenang S Sudjojono, Zaini, Nashar, dan Salim dari dunia lukis. Juga untuk Rendra, Djamal Djaharuddin, dan SM Ardan dari kalangan pegiat seni dan budaya. Hampir semua obituari yang dituliskan memang ditujukan kepada pribadi yang pernah dikenal dengan baik oleh Ajip, baik bersahabat dekat atau bahkan berada di sisi yang sama sekali berlawanan.

Perlu dimaklumi bahwa sekitar tahun 1960-an, dunia sastra dan seni-budaya Indonesia mengalami suatu perseteruan yang berujung pada terbentuknya dua kubu: kubu kiri yang mengusung sastra-budaya realisme sosialis yang bernaung di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra; suatu organisasi budaya yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia-PKI) dan kubu kanan penandatangan Manifes Kebudayaan yang menyerukan humanisme universal. Meskipun Ajip Rosidi tidak pernah mengklaim bahwa dirinya termasuk ke dalam kubu Manifes Kebudayaan, tetapi ia dengan tegas menolak perlakuan kubu Lekra terhadap dunia sastra Indonesia saat itu. Hal ini pula yang meski tidak begitu kentara, tetapi cukup terlihat pada beberapa obituarinya, terutama kepada mereka yang terafiliasi dengan kubu kiri seperti Pramoedya, AS Dharta, dan Utuy T Sontani.

Hal yang cukup menarik untuk dicermati pada setiap obituari yang ditulisnya di buku ini ialah jelas bahwa Ajip Rosidi merupakan seorang penghafal (atau setidaknya notulen) yang baik, karena ia dapat menyebutkan dengan jelas kapan ia pertama kali bertemu dengan person tersebut, apa saja karya dan kontribusi yang dihasilkan, apa saja yang mereka sampaikan kepadanya, dan bahkan hal-hal kecil dan sederhana yang tampaknya akan sulit untuk diingat.

Bukan hanya karena fakta-fakta yang dikemukakan yang membuat tulisan-tulisan pada obituari ini menarik, tetapi karena diungkapkannya juga perasaan subjektif dan personal (seperti yang mungkin diilustrasikan pada sampul buku, dimana siluet Ajip yang bertopi sedang berbagi cerita dengan seseorang di sebelahnya). Ajip yang juga merupakan seorang penyair dan eseis yang handal membuat obituari yang ditulisnya seperti layaknya biografi singkat tokoh-tokoh tersebut yang membuat para pembacanya akan kembali mengingat pribadi-pribadi tersebut serta karya-karya semasa hidupnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s