‘Burung-Burung Rantau’ (Y.B. Mangunwijaya)

tumblr_inline_na4g06gvqE1qb7t48Sepanjang tahun 2015 ini saya telah membaca beberapa karya dari sastrawan dan rohaniwan Romo Yusuf Bilyarta Mangunwijaya (Romo Mangun). Selain Burung-Burung Manyar, Ikan-Ikan Hiu Ido Homa, dan Pohon-Pohon Sesawi, Burung-Burung Rantau merupakan salah satu di antaranya. Membaca karya Romo Mangun memang selalu menarik. Ia memiliki kemampuan untuk membuat tiap kalimat yang ditulisnya menarik untuk dibaca, baik karena gaya bahasa, pilihan kata, maupun struktur kalimatnya. Begitupun pengalaman membaca Burung-Burung Rantau yang pertama kali terbit pada 1992 ini.

Burung-Burung Rantau mengisahkan drama keluarga Letnan Jenderal Purnawirawan Wiranto, seorang pensiunan perwira tinggi dan mantan duta besar yang tengah menikmati masa pensiun sembari tetap menyibukkan diri sebagai komisaris sebuah bank milik pemerintah. Di tengah hari-hari senjanya itu, ia bersama Yuniati, istrinya yang gemar bersosialisasi dan berorganisasi menyaksikan anak-anaknya yang telah dewasa tumbuh menjadi pribadi unik yang masing-masing memiliki karakter individu, kisah hidup, dan pemikiran yang sama sekali berbeda dalam memandang arti kesuksesan dan makna kehidupan.

Anggraini atau Anggi, si putri sulung, merupakan seorang wanita pebisnis ulung, yang kerap mendasari segala langkah hidupnya berdasar untung-rugi yang saklek dan tidak dapat ditawar-tawar. Wibowo atau Bowo, sang putra kedua yang pendiam dan introvert meniti karir di bidang ilmu pengetahuan dengan menjadi seorang fisikawan nuklir dan astrofisika yang cemerlang di CERN. Adiknya, Candra Sucipto mengikuti jejak ayahnya di bidang militer sebagai seorang Letnan Kolonel penerbang yang kerapkali menerbangkan pesawat supersonik. Candra berkembang sebagai manusia teknis praktis yang selalu patuh pada komando meski tetap mempertahankan sisi humanisnya dengan mempelajari sejarah dan sosiologi kemanusiaan. Anak keempat adalah seorang putri, Marineti Dhianwidhi atau Neti, seorang sarjana antropologi yang kritis, pembangkang, dan kadangkala bersikap nyeleneh. Ia menjadi anak bungsu di keluarga Wiranto sejak adik bungsunya, Edi meninggal setelah jatuh ke dalam jurang maut narkotika. Narasi cerita berada di sekitar Neti serta pemikirannya yang kritis mempertanyakan segala sesuatu tentang eksistensi kehidupan.

Meski dengan plot cerita yang sederhana, buku ini toh tetap begitu menarik karena deksripsi karakter yang kuat serta monolog-dialog yang dengan piawai menyelingi jalan cerita. Karakter-karakter unik pada kisah ini mengalami pergolakan batin masing-masing yang membuat cerita pada buku ini seperti sebuah kronik. Argumentasi dan dialog cerdas antar-karakter tak jarang terkesan metaforis dan filosofis yang kerap mempertanyakan intisari kehidupan sehari-hari di sekitar mereka. Tentang bagaimana menyikapi keberadaan Tuhan, eksplorasi dunia fisika makro-kosmos maupun mikro-kosmos, tentang liberalisme dan modernitas, sistem demokrasi dan filosofi Yunani, hukum karma dan kasta India, hingga realitas sosial-masyarakat di bumi pertiwi. Semua itu dituliskan dengan bahasa percakapan colloquialism yang renyah yang tak lepas dari unsur jenaka khas Mangunwijaya sehingga tanpa sadar pembaca telah menikmati subjek yang kompleks namun disajikan dengan menarik. Tokoh-tokoh pada cerita ini diibaratkan pengarang tak ubahnya bagai burung-burung rantau yang senantiasa berusaha menemukan lingkungan yang ideal dan sesuai dengan apa yang mereka cita-citakan demi membentuk pribadi yang lebih baik di masa mendatang, namun tak lupa untuk kembali ke akarnya.

Melalui buku ini, Romo Mangun seakan mengajak pembacanya untuk berdiskusi, berpikir, dan mensintesis beragam peristiwa yang dialami para karakter dalam bukunya untuk dapat direfleksikan pada kehidupan kita. Membaca buku ini juga membuat saya berpikir bahwa pemikiran manusia sebagai makhluk individual dapat menjadi begitu rumit, namun sebagai makhluk sosial juga tetap menghargai kebebasan berpikir dan bertoleransi antar individu.

Secara umum buku ini merupakan bacaan yang menyenangkan meskipun dipenuhi oleh berbagai topik yang tampak berat dan rumit. Pada karyanya ini, Romo Mangun berhasil mengemas pemikiran kompleks dalam sebuah fiksi sastra yang menghibur, yang membuat para pembaca rindu padanya baik sebagai pribadi maupun terhadap karya-karya sastranya. Sebuah bacaan wajib bagi mereka yang mengagumi Romo Mangun atau siapapun yang ingin mengeksplorasi sastra tanah-air Indonesia.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s