‘Ayah’ (Andrea Hirata)

novel-ayah-andrea-hirata‘Ayah’ merupakan karya Andrea Hirata kesembilan setelah tetralogi Laskar Pelangi: ‘Laskar Pelangi’, ‘Sang Pemimpi’, ‘Edensor’, dan ‘Maryamah Karpov’; Dwilogi ‘Padang Bulan’ dan ‘Cinta di Dalam Gelas’; ‘Sebelas Patriot’; dan ‘Laskar Pelangi Song Book’. Karya yang hadir dengan jarak waktu yang cukup jauh dari karya Andrea sebelumnya membuat novel ini begitu dinantikan para pembaca setianya.

Novel ‘Ayah’ berkisah tentang pemuda sederhana dan lugu asal Belitong (sebuah pulau di daerah Sumatera Selatan yang juga merupakan kampung halaman Andrea Hirata) bernama Sabari bin Insyafi. Alur cerita masih serupa dengan karya-karyanya sebelumnya yang masih berada di seputar kesederhanaan pribadi seorang Melayu, namun mengalami berupa pengalaman dan kisah hidup yang luar biasa. Kisah pada novel ini berawal dari pandangan pertamanya dengan Marlena, seorang gadis acuh-tak-acuh yang cenderung pemberontak, yang menyontek kertas jawaban Sabari di detik-detik akhir Ujian Nasional. Peristiwa menggelitik itu tak pernah Sabari sangka akan membawanya pada kisah cinta yang sesungguhnya tragis, namun diwartakan oleh penulis dengan jenaka seperti halnya karya-karya sebelumnya.

Dengan bertumbuhnya perasaan Sabari kepada Marlena, semakin pula ia menyadari bahwa rasa rindu mendalamnya tak pernah terbalas dan usahanya selalu bertepuk sebelah tangan. Bertahun-tahun ia berupaya tanpa hasil, hingga akhirnya ia dapat bernapas sedikit lega setelah Markoni, ayah Marlena yang sekaligus juga mandornya di sebuah percetakan batako, memutuskan untuk menikahkan Sabari dengan Marlena karena terjadi ‘hal-hal di luar rencana’ pada Marlena.

Marlena tetap tak mengacuhkan Sabari meski mereka telah resmi menjadi suami-istri, namun Sabari tetap bahagia dan setia dalam pernikahan yang dingin itu. Kebahagiaan Sabari pun semakin lengkap dengan lahirnya putra Marlena yang mereka panggil Zorro, meski anak itu bukanlah darah-dagingnya. Kebahagiaannya itu pun hanya berlangsung sesaat ketika Marlena yang memang berjiwa pemberontak melarikan diri dengan membawa serta Zorro.

Kehilangan Zorro membuat Sabari dilanda kesedihan dan kemurungan yang hampir berujung pada depresi. Melihat hal itu, Ukun dan Tamat, dua sahabat baik Sabari berinisiatif untuk mencari Marlena dan Zorro ke seantero Sumatera. Setelah berbulan-bulan pencarian dan menemui berbagai karakter dan kejadian unik di sepanjang Sumatera, Zorro akhirnya berhasil ditemukan dan kembali ke Kampung Belantik di Belitong, tempat Sabari tinggal. Kehidupan ayah-anak yang tidak sedarah-daging itu menemui babak baru.

Novel ‘Ayah’ memuat kisah yang sederhana tentang cinta tak bersyarat seorang ayah dan anak, meskipun ia bukan anak kandungnya. Seorang ayah yang rela melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya, demi membuat anaknya bangga kepada ayahnya. Pada buku ini juga terselip kisah ayah-ayah lainnya yang begitu menyentuh. Seorang ayah yang menanamkan kepada anaknya kecintaan akan keindahan sastra, seorang ayah yang menemukan kebahagiaan di tengah-tengah kesulitan hidup, seorang ayah yang tegas karena tak menginginkan anaknya mengulangi kesalahan yang sama seperti dirinya, hingga seorang ayah yang tergerak untuk membantu seseorang yang kehilangan anaknya meski begitu mustahil untuk menemukannya.

Pada buku ini, karakteristik sastra Andrea Hirata masih begitu terasa, terutama dari segi kalimat deskriptifnya yang kadang hiperbolik namun tetap menarik, tragedi yang diceritakan dengan humor menggelitik, dan bagaimana kebahagiaan dapat ditemui dari hal-hal kecil dan bahkan dalam kemalangan sekalipun. Barangkali caranya bercerita ini adalah sebuah cerminan dari diri penulis pribadi yang merupakan putra asli keturunan Melayu Dalam, yang seperti pernah Andrea singgung dalam karyanya terdahulu ‘Maryamah Karpov’ bahwa orang Melayu, meski dalam kesialan pun, masih tetap dapat merasa mujur.

Bagi pembaca yang telah menikmati karya-karya mega best seller darinya seperti tetralogi ‘Laskar Pelangi’, novel ini mungkin saja sedikit mengecewakan karena tampak pengarang seperti ingin mempertahankan signature gaya penulisannya dan masih berkutat di sekitar  kehidupan warga Melayu, meskipun tidak sesukses ‘Laskar Pelangi’. Bagaimanapun, novel ‘Ayah’ tetap menyenangkan untuk dibaca dan karya-karya Andrea Hirata selanjutnya akan tetap ditunggu untuk hadir di hadapan pembaca.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

One thought on “‘Ayah’ (Andrea Hirata)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s