Eksplorasi Sejarah dan Budaya Suku Tobelo pada ‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’ (Y.B. Mangunwijaya)

Ikan-HiuSejarah Indonesia seakan tak pernah habis untuk digali, dieksplorasi, dan dituturkan dalam bentuk lain, untuk dapat dibagikan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat yang mendamba ceritera mengenai peristiwa bersejarah yang bernuansa dan berlatarbelakang asli Indonesia. Kisah-kisah tersebut kemudian beralih menjadi bentuk baru dari kisah sejarah yang faktual namun tanpa menghilangkan estetika serta penuh pelajaran bermakna yang masih relevan hingga kini. Barangkali dengan semangat itulah sang sastrawan serba-bisa kebanggan tanah-air, Romo Y.B. Mangunwijaya, menuliskan salah sebuah kisah bersejarah pada ‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’ ini.

‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’ mengisahkan kehidupan penduduk suku Tobelo yang bermukim di sekitar pantai Teluk Kao, Halmahera, di antara perseteruan yang tak kunjung reda antar-saudara pulau kembar dengan gunung api yang bergejolak: Ternate di utara dan Tidore di selatan sekitar akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Perselisihan yang hanya diakibatkan oleh gengsi dan dendam masa lalu semata itu pula yang semakin membuat kedua kerajaan pulau kecil yang bersisian itu semakin terjerembab jatuh dan mengalami kemunduran. Perang saudara yang berkelanjutan itu tentu dimanfaatkan dengan baik oleh armada dagang kolonial asal Farang (Eropa): Portugis, Kastilia (Spanyol), Inglis (Inggris), serta Holan (Belanda) lewat VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) yang bertekad menguasai kepulauan kaya rempah-rempah itu.

Setelah kampung Dowingo-Jo yang damai di pesisir Teluk Kao dibumihanguskan oleh bala tentara Kerajaan Ternate akibat ambisi pribadi sang kepala kampung, Kiema-Dudu, seorang pemuda bernama Mioti-Lamo, ahli pembuat kapal yang berhasil selamat dari pembantaian keji itu membangun kembali desa yang telah luluh lantak itu. Ia menamai desa itu Gamu Fela Ie disingkat Gamfela yang bermakna Kampung Kutegakkan Kepala. Bersama dengan istrinya, Loema-Dara, janda dari Kiema-Dudu, Mioti-Lamo memiliki keturunan dan mengajar penduduk kampung halaman istrinya untuk memasyhurkan kembali kampung tersebut ke seantero Maluku akan keahlian mereka dalam membuat perahu.

Di sisi lain, Kerajaan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Said Uddin Barkat pengganti Sultan Baabullah serta para hulubalangnya yang arif bijaksana, Jougugu Hidayat, Kaicil Ali, dan Ngofa Jou Juanga-Murari tengah menimbang-nimbang armada Holan untuk dijadikan mitra dagang sekaligus mitra perang untuk menghadapi Tidore yang telah didukung armada Portugis. Keputusan Dewan Kerajaan pada akhirnya juga berpengaruh terhadap kampung Gamfela.

Kedamaian kampung kemudian terusik oleh kedatangan wakil Kerajaan Ternate yang memohon keahlian membuat kapalnya demi kepentingan Ternate. Mioti-Lamo yang sejatinya tidak menyukai dan sangat menghindari konflik, terang-terangan mempertanyakan langkah Kerajaan Ternate:

“…Namun, maafkan Paduka, bukankah ido-ido yang merasa menguasai homa-homa kecil, bukankah mereka sendiri tertipu juga dan masuk perangkap penangkap-penangkap ikan yang lebih kuasa dan rakus? Manusia atau ikan-ikan hiu, lalu apa bedanya? Apakah para paduka di Ternate dan Tidore tidak sadar bahwa segala perang saudara serta persaingan antar pulau-pulau kecil kita hanya menenggelamkan diri kita sendiri?” – hal.297 (Penerbit Kompas, 2015)

Namun Mioti seperti tidak memiliki pilihan selain untuk membantu, apalagi dengan masih hidupnya ibu serta adik perempuannya yang selama ini tinggal di lingkungan istana Ternate. Namun ia tak pernah menyangka bahwa langkah itulah yang akhirnya mencerabutnya dari kampung halaman tempatnya lahir dan mencurahkan hidup serta cintanya.

‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’memang merupakan fiksi sejarah. Namun kejelasan alur cerita dan kepiawaian serta kejelian pengarang dalam menggunakan referensi bahasa, budaya, dan religi membuat karya ini begitu menarik karena memang pengarang menggunakan penelusuran sejarah yang mumpuni dalam menulis kisah ini. Romo Mangun juga dengan jeli memanfaatkan latar belakang unik dan dialek jenaka suku Tobelo untuk membangun cerita, merangkai deskripsi, serta membangun humor khas Mangunwijaya sehingga jalan cerita terasa dinamis dan jauh dari kesan membosankan. Penulis juga mengungkap betapa besar pengaruh persaingan dua saudara sebangsa seiman Ternate-Tidore dan kedatangan armada Eropa terhadap seluk-beluk kehidupan suku-suku kecil yang dikuasai dua kerajaan tersebut.

Kehidupan penduduk Gamfela digambarkan dengan sangat baik dan detil oleh Romo Mangun, termasuk penggunaan diksi dan ekspresi khas suku Tobelo. Deskripsi akan prosesi adat, budaya, kepercayaan, serta kearifan lokal suku Tobelo juga menjadi daya tarik tersendiri dari fiksi sejarah ini yang juga membuat pembaca berdecak kagum akan keberagaman budaya di Indonesia, bahkan di lingkungan kecil antar-pulau di Maluku Utara tersebut.

Terasa juga kritik Romo Mangun akan tabiat kerajaan kedua pulau kecil yang makmur itu dan mungkin juga sebagian besar masyarakat pribumi lainnya yang masih juga terasa gaungnya hingga sekarang:

“Perang saudara dalam bentuk apapun yang hanya menguntungkan pihak-pihak luar belumlah terkubur sampai hari ini.” (Epilog)

Kerajaan Ternate dan Tidore yang bagai ikan-ikan ido yang lebih besar bersaing memperebutkan dan mencaplok ikan-ikan homa yang lebih kecil, termasuk penduduk Tobelo, Dodinga, dan Mangindanao. Namun tanpa disadari mereka juga telah diperdaya dan masuk perangkap ikan-ikan hiu yang jauh lebih cerdas, kuat, dan beringas: para penakluk asal Eropa.

Karya ini semakin meneguhkan posisi Romo Y.B. Mangunwijaya tidak hanya sebagai rohaniwan dan budayawan yang disegani, namun juga sastrawan-sejarawan yang mampu melahirkan karya adiluhung dalam khazanah sastra Indonesia. Buku ini merupakan sumbangan besar terhadap dunia literer tanah-air serta sebagai salah satu usaha dokumentasi sejarah bangsa lewat sastra.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

One thought on “Eksplorasi Sejarah dan Budaya Suku Tobelo pada ‘Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa’ (Y.B. Mangunwijaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s