Distopia Pasca Proklamasi pada ‘Jalan Tak Ada Ujung’ (Mochtar Lubis)

Jakarta pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan kota yang mencekam. Perseteruan yang terjadi antara para pemuda yang mengagungkan revolusi kemerdekaan dengan sisa tentara Jepang, Belanda, serta tambahan pasukan Sekutu dalam naungan NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) berpengaruh besar pada setiap segi kehidupan manusia di ibukota ini. Kelumpuhan ekonomi, bentrokan sporadis, kelaparan, pemerkosaan, kekerasan dan pembunuhan terjadi di setiap sudut kota atas nama revolusi. Jakarta yang sebelumnya menjadi tumpuan harapan dan bersemayamnya semangat kemerdekaan berubah kacau. Dengan latar inilah Mochtar Lubis menempatkan karakter-karakternya pada ‘Jalan Tak Ada Ujung’: Hazil, pemusik yang dipenuhi semangat revolusi, dan Guru Isa yang cinta damai dan anti-kekerasan, namun terseret arus perlawanan karena ketakutannya akan dianggap sebagai pengkhianat revolusi.

Mengingat reputasi Mochtar sebagai jurnalis handal, saat membaca novelnya ini tentu kita terbayang akan laporan jurnalistik yang berisi peristiwa aktual sekitar tahun 1945 yang pernah ia alami dan rasakan. Terasa banyak satir dan kritik sosial di dalamnya.

“Freedom is the birth right of every nation!”
“NICA – No Indonesian Cares About”

Slogan-slogan yang tertera di tembok-tembok itu ternyata bertolak-belakang dengan kenyataan yang ada. Sekelompok pemuda kehilangan arah yang tengah berada dalam pusaran euphoria kemerdekaan, yang seharusnya memerdekakan rakyat, malah mengambil hak-hak hidup mereka dengan menciptakan teror dan ketakutan dengan senjata lucutan Jepang. Mereka menuduh semua yang berseberangan sebagai mata-mata penjajah, pengkhianat, dan karenanya pantas dibunuh.

Isa, seorang guru yang menjadi karakter sentral, adalah pribadi yang dipenuhi ketakutan, ketakutan tak ada ujung. Takut dianggap pengkhianat, takut akan hari esok, bahkan takut akan kebenaran yang sesungguhnya telah ia ketahui. Ia tak punya keberanian untuk mengubah keadaan, hingga akhirnya ketika ia dihadapkan akan salah satu ketakutan terbesarnya – ditangkap dan dipenjara – ia menyadari bahwa ketakutannya itu bukanlah hal yang besar dan ia mampu mengatasinya. Justru hal ini membuatnya menjadi karakter seorang manusia seutuhnya dengan segala ketakutan dan keberaniannya.

Kisah ini begitu terasa distopia, apalagi dengan ekspektasi bahwa revolusi kemerdekaan akan menghadirkan negara yang ideal. Novel ini dapat menjadi salah satu wadah untuk menuliskan sejarah melalui sastra dan direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengenal lebih jauh karya-karya Mochtar Lubis.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s