Dwilogi ‘Saman & Larung’ (Ayu Utami): Sastra Era Reformasi

i282882364581815452._szw480h1280_

Dwilogi “Saman – Larung” karya Ayu Utami (terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, edisi tahun 2013)

Dwilogi “Saman & Larung” barangkali merupakan salah satu sumbangan terpenting di ranah sastra Indonesia pada masa detik-detik menjelang Reformasi, yang ditandai dengan mundurnya Presiden Jenderal Soeharto dan runtuhnya pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun berkuasa di bumi pertiwi. Latar belakang sepasang novel ini pun tak jauh seputar itu, kegiatan para aktivis yang melakukan pergerakan di berbagai bidang untuk membela masyarakat kalangan bawah dalam menentang ketidakadilan. Pergerakan bawah tanah yang “tidak resmi” ini tentu saja dilarang pemerintah dengan alasan “mengganggu stabilitas nasional”, jargon yang saat itu giat-giatnya didengungkan Orde Baru.

Penulis dwilogi ini adalah Ayu Utami, seorang jurnalis yang merasakan betul represi pemerintahan Orde Baru akan kemerdekaan informasi, kebebasan berpendapat, dan keterbukaan jurnalistik. Pengalamannya saat merasakan pengekangan jurnalistik (salah satunya adalah pembredelan majalah ‘Tempo’) hingga akhirnya ia turut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang giat menyuarakan kebebasan pers dan keterbukaan informasi. Idealismenya itu menyebabkannya tak dapat lagi bekerja di media massa manapun di Indonesia akibat pengaruh kekuasaan Orde Baru. Namun hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk menyuarakan kebenaran lewat sastra, yang sangat sesuai dengan spirit para jurnalis independen saat itu “saat pers dibungkam, sastra harus bicara“. Hingga akhirnya novel ‘Saman’ (terbit tahun 1998, hanya sepuluh hari sebelum Presiden Soeharto mengundurkan diri) dan lanjutannya, ‘Larung’ (terbit tahun 2001) lahir demi menyuarakan gagasan tersebut. Novel ‘Saman’ bahkan menjadi pemenang Sayembara Roman yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998 dan telah diterjemahkan ke delapan bahasa asing, yang juga membuktikan kualitas sastranya yang mumpuni.

‘Saman’ – Menguak Kebobrokan Orde Baru

Novel yang diterbitkan di penghujung akhir pemerintahan Orde Baru ini memang seakan menentang segala represi dan pembungkaman aksi jurnalistik oleh pemerintah saat itu. ‘Saman’ mengisahkan sepak terjang seorang pastor muda Katholik yang kemudian beralih menjadi aktivis sosial di suatu lembaga swadaya masyarakat yang menentang segala bentuk ketidakadilan terhadap rakyat. Titik balik tajam yang dialami pemuda yang kemudian mengganti namanya menjadi Saman -sebuah nama yang tidak konvensional sehingga terasa sebagai lambang perlawanan- itu diakibatkan keprihatinannya akan seorang perempuan gila yang dipasung keluarganya dan juga kekejian oknum aparat militer yang menyiksanya karena ia dituduh sebagai pemberontak subversif beraliran kiri, tuduhan yang bisa berujung kematian pada masa itu. Begitu terasa kritik sang penulis terhadap keadaan masyarakat dan negara pada saat itu yang penuh intrik dan kecurigaan, yang begitu mudah menghakimi dan mengambinghitamkan pihak lain, yang represif cenderung totaliter.

Novel ini juga terasa semakin kontroversial karena menampilkan spiritualisme dan seksualitas yang begitu kentara, terutama mengenai kisah empat perempuan yang bersahabat sejak kecil yang juga saling mengenal Saman, yaitu Shakuntala, Cok, Yasmin, dan Laila. Melalui penulisan seksualitas yang tanpa tedeng aling-aling tersebut, penulis seakan hendak mendobrak sensor berlebihan dan represi kebebasan individu yang dilakukan pemerintah saat itu. Bahkan dari gaya penulisan pun, novel ini terasa begitu berbeda. Teknik komposisi yang menggabungkan narasi orang pertama dan ketiga saling mengisi silih berganti, begitupun dengan bentuk surat dan catatan harian. Fragmen-fragmen tersebut saling tumpang tindih hingga akhirnya membentuk suatu kolase karya yang utuh.

Dunia Gelap Larung

Kisah Saman dan empat sekawan Shakuntala, Cok, Yasmin, dan Laila berlanjut ke sekuel dwilogi ini, ‘Larung’. Dalam pelariannya dari kejaran aparat Orde Baru, Saman dipertemukan dengan Larung, seorang pemuda berkarakter gelap yang memiliki latar belakang yang kental akan aroma mistis dan spiritualisme. Latar belakang itu pula yang membentuk karakter Larung di kemudian hari. Sebagai anggota pergerakan bawah tanah dalam menentang Orde Baru, ia adalah aktivis dingin yang efisien, taktis, sistematis, bergerak cepat, dan penuh perhitungan yang membuatnya sangat ‘licin’ dan sulit dicari aparat. Pelariannya bersama Saman justru terbongkar akibat tiga aktivis muda yang ikut bersama mereka, yang sama sekali tidak mengindahkan instruksi Larung untuk tidak berkomunikasi dengan pihak luar, termasuk keluarganya sendiri.

‘Larung’ terasa lebih dinamis dibanding ‘Saman’, dan secara pribadi saya lebih menyukai karakter Larung yang dingin dan gelap dibanding Saman. Teknik komposisi masih digunakan dalam novel ini seperti pendahulunya. Hanya saja semakin terlihat bahwa kisah empat sekawan Shakuntala, Cok, Yasmin, dan Laila hanyalah pelengkap semata, tanpa ada benang merah berarti dan tidak begitu mempengaruhi inti dan jalan cerita.

Pembuktian Antitesis ‘Sastra Wangi’

Graphic1

Dwilogi “Saman-Larung” terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) masing-masing tahun 1998 dan 2001.

Dwilogi ‘Saman & Larung’ yang menjadi salah satu pelopor karya sastra era Reformasi ini merupakan salah satu karya penting yang lahir dari tangan penulis wanita. Karya yang telah meraih penghargaan dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing ini seakan menjadi bukti bahwa Ayu Utami telah menancapkan dirinya sebagai salah satu sastrawati yang perlu diapresiasi. Ayu Utami juga dengan sendirinya menjadi antitesa ‘sastra wangi’, yang menurut Goenawan Mohamad merupakan cemoohan segelintir pegiat sastra terhadap karya yang ditulis sejumlah pengarang wanita yang kerapkali menonjolkan sisi seksualisme dan feminisme yang berlebihan.

Karya Ayu Utami ini tidak hanya bukti antitesa terhadap tuduhan itu, namun bahkan merupakan karya sastra terpenting di masa Reformasi.

Ulasan ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

7 thoughts on “Dwilogi ‘Saman & Larung’ (Ayu Utami): Sastra Era Reformasi

  1. Hi.. I’ve already read your review of Saman. I do agree that the story of the four girls didn’t actually have impact on the whole story whatsoever and Ayu Utami should deepen her character development and background stories.

    You should immediately read Larung, I personally think Larung has a deeper character development than Saman and a more dynamic story. Plus I really like Larung’s cold and mysterious personality.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s