Perspektif Baru Memaknai Patriotisme melalui ‘Burung-Burung Manyar’ (Y.B. Mangunwijaya)

BnGnlyWCMAAgTeiHingga pertengahan tahun 2015, karya sastra yang saya baca kebanyakan merupakan karya sastra internasional berbahasa Inggris atau diterjemahkan ke bahasa Inggris, yang cukup membuat rindu akan karya sastra bahasa Indonesia.

Di tengah pencarian akan karya sastra terbaik anak negeri, saya menjumpai novel “Burung-Burung Manyar” karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya yang kembali diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dengan desain sampul baru yang lebih segar dibanding desain terdahulu. Novel yang merupakan salah satu karya adiluhung dari Romo Mangun (sebutan akrab Y.B. Mangunwijaya) ini tak pelak menjadi pelepas dahaga dan kerinduan saya akan karya sastra Indonesia bermutu.

Novel yang mengambil latar belakang peristiwa sejarah aktual Hindia-Belanda semasa Perang Dunia II, mulai dari kedatangan bala-tentara Jepang, kekalahan Belanda, hingga agresi militer yang dilancarkan tentara Belanda dibantu Sekutu untuk merebut kembali Indonesia yang sudah terlebih dahulu memproklamirkan kemerdekaan sebagai negara berdaulat.

Perspektif Baru Nan Kontroversial

Roman ini terasa begitu istimewa karena penulis mengambil sudut pandang yang sangat berbeda dan cenderung tidak konvensional. Sang protagonis, Setadewa -yang selalu dipanggil dengan sebutan Teto- pemuda keturunan keraton Jawa, digambarkan sebagai seorang prajurit yang memilih berada di pihak Belanda dan bergabung dengan KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische Leger; Tentara Kerajaan Hindia-Belanda) yang begitu anti-Jepang dan antipati terhadap kaum Republik yang mendukung penjajahan Jepang di bumi pertiwi. Maka melalui kisah ini, Romo Mangun telah menawarkan perspektif yang baru dan segar, yang kontroversial di tengah-tengah nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia yang menganggap tentara KNIL sebagai pengkhianat bangsa, namun amat menarik untuk ditelaah lebih lanjut karena objektivitasnya.

Teto yang memilih untuk berada di pihak Belanda karena memusuhi Jepang yang telah merenggut kedua orangtuanya yang antipati terhadap dwi-tunggal Republik Indonesia Soekarno-Hatta yang dianggapnya bekerjasama dengan Jepang, serta diam-diam menaruh simpati pada Perdana Menteri Sutan Sjahrir, diplomat ulung yang gerak-geriknya sulit ditebak juga semakin memperluas pandangan kita akan makna kebangsaan dan nasionalisme. Salahkah ia karena bergabung dengan pihak Belanda untuk melawan tentara Jepang yang telah merenggut keluarganya? Pengkianat-kah ia apabila memusuhi bangsanya sendiri yang bekerjasama dengan pihak penjajah yang sadis? Dalam roman ini, Romo Mangun seakan menegaskan bahwa perang bukanlah hitam-putih, bukan soal menang atau kalah karena akan selalu ada pihak yang dirugikan dan dikorbankan.

Pilihannya itu bukanlah tanpa konsekuensi. Teto dianggap pengkhianat dan diburu oleh tentara bangsanya sendiri sehingga harus rela berpisah dengan Larasati, cintanya yang tak pernah diungkap. Kisah cinta Teto dan Larasati bukanlah cinta yang platonik melainkan rasa empati dan kasih sayang mendalam yang memang tak pernah diungkapkan secara lisan namun memiliki kedalaman makna yang tersirat dari jalan cerita. Hingga pada akhirnya Larasati menemukan kisah cintanya sendiri, yang meski tidak hangat bergelora, namun tenteram dalam bahtera rumah tangga, meski tetap menyimpan rasa cinta yang hangat kepada Teto. Pengarang mengandaikan mereka seperti burung-burung manyar yang tetap membuatkan sarang terbaik untuk sang terkasih meski telah lama ditinggalkan.

Sebuah masterpiece

Sangat tampak pada karyanya ini keseriusan, kepiawaian, dan wawasan luas Romo Mangun dalam menggambarkan emosi dan situasi aktual dalam sejarah bangsa, serta dalam mengembangkan karakter. Saat pembaca terlena dengan alur yang memikat, sang pengarang dengan gaya menulisnya yang khas, menggambarkan karakter lewat pemikiran dan dialog-dialog yang cerdas, humoris menggelitik, penuh kritik dan sindiran di sana-sini, baik terhadap orang lain, pada sistem, bahkan terang-terangan mengejek dirinya sendiri. Humor satirikal pada roman ini, meski terkesan ‘gelap’ toh tak urung membuat pembacanya mengangguk mengiyakan dalam pikiran, menyadari kebenaran di setiap kata-katanya yang blak-blakan. Penulis juga seakan menegaskan bahwa setiap pilihan yang dibuat memiliki latar belakang dan pula memiliki konsekuensi tersendiri di masa mendatang.

Lewat roman ini, Romo Mangun lewat karakternya Teto seakan menyindir diri pribadi kita sebagai bangsa terjajah yang oportunistik dan hanya mampu mengekor tanpa terlebih dahulu memperjuangkan pendirian dan pilihan yang telah dibuat, meski pilihan tersebut memiliki konsekuensi yang besar. Roman ini juga merupakan kisah perjuangan, pencarian jati diri, konsekuensi akan sebuah pilihan, dan makna cinta antar-insan. Tak pelak lagi, “Burung-Burung Manyar” merupakan salah satu masterpiece dari Y.B. Mangunwijaya sekaligus karya paling penting dalam khasanah sastra Indonesia.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

2 thoughts on “Perspektif Baru Memaknai Patriotisme melalui ‘Burung-Burung Manyar’ (Y.B. Mangunwijaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s