Sastra ‘Wong Cilik’ pada ‘Mata yang Enak Dipandang’ (Ahmad Tohari)

Kumpulan Cerpen Ahmad Tohari telah dikenal luas sebagai salah satu maestro prosa bernuansa realisme sosial. Karya-karya sastra yang digubahnya seringkali mengulas seputar kehidupan masyarakat kelas ekonomi bawah atau kalangan “akar rumput”, lengkap dengan segala dinamika dan kisah hidup yang menyentuh hati pembacanya.

Tema sosial yang konsisten diusung Ahmad Tohari ini juga tampak pada kumpulan cerpennya ‘Mata yang Enak Dipandang’. Kumpulan cerita pendek yang telah terbit di berbagai media nasional seperti Kompas dan Majalah Kartini pada 1987-1991 ini masih di seputar dinamika kehidupan dari kacamata masyarakat yang terpinggirkan zaman. Seperti misalnya cerita pembuka kumpulan ini yang berkisah tentang seorang pengemis buta atau “kere picek” yang kerapkali dimanfaatkan dan diperas oleh penuntunnya untuk menemukan penderma yang memiliki “mata yang enak dipandang”.

Cerita yang mendominasi kumpulan ini berkisar pada tema kehidupan sosial masyarakat beserta lika-liku konflik terhadap norma sosial-kemasyarakatan dan norma kesusilaan seperti pada “Bila Jebris Ada di Rumah Kami“, “Warung Penajem“, dan “Kang Sarpin Minta Dikebiri“. Di antara kisah realisme sosial tersebut juga terdapat kisah berbau spiritualisme dan realisme magis seperti “Salam dari Penyangga Langit” dan “Akhirnya Kasim Menyeberan Jalan” dan juga mengenai perubahan karakter masyarakat pada “Paman Doblo Merobek Layang-Layang” atau kisah kelompok tuna wisma “Dawir, Turah, dan Totol” yang sarat akan kritik sosial.

Secara umum, cerpen-cerpen Ahmad Tohari pada kumpulan ini ditulis secara lugas dengan gaya bahasa yang sederhana tanpa perlu usaha lebih untuk menarik simpati dan empati pembacanya. Kisah yang ditulisnya terkadang terkesan satirikal, memiliki muatan kritik, ataupun sindirian dan cibiran terhadap norma, realitas, bahkan terhadap struktur sosial pada masyarakat itu sendiri.

Kumpulan cerpen ini merupakan awal yang sangat baik dalam mengenal lebih jauh karya-karya Ahmad Tohari serta menyelami dunia sastranya yang dipenuhi cita-rasa sosial.

Review ini merupakan bagian dari:

Tantangan Baca: Kumpulan Cerpen “Kompas”

Advertisements

2 thoughts on “Sastra ‘Wong Cilik’ pada ‘Mata yang Enak Dipandang’ (Ahmad Tohari)

  1. Ronggeng Dukuh Paruk itu salah satu novel favoritku makanya beberapa minggu lalu aku beli Mata yang Enak Dipandang. Aku belum baca tapi setelah dibuka-buka, gayanya jauh lebih santai dan lugas daripada Ronggeng Dukuh Paruk ya?

    Secara keseluruhan, kamu rekomendasikan Mata yang Enak Dipandang kan?

    Liked by 1 person

  2. Hi..
    Wah coba deh mulai baca aja. Betul secara umum memang lebih lugas daripada Ronggeng Dukuh Paruk, salah satunya karena bentuknya cerita pendek. Recommended kok, sebagai pembaca pemula karya-karyanya Ahmad Tohari, kumpulan cerpen ini sangat cocok untuk mengenal karyanya yang lain..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s