‘Amba’ (Laksmi Pamuntjak): Drama Cinta di Antara Konflik Nasional

15995172Kisah cinta antara Amba dengan Bhisma, tokoh dalam kitab epik Mahabharata dan kisah pewayangan masyarakat Jawa bertautan dengan kisah Amba Kinanti dengan Bhisma Rashad pada novel yang diberi tajuk ‘Amba’ gubahan Laksmi Pamuntjak ini. Hanya saja bukanlah pertumpahan darah antara Pandawa-Kurawa yang menjadi latar belakang, melainkan peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965.

Amba yang merupakan seorang sarjana sastra Inggris bertemu dengan Bhisma, seorang dokter muda lulusan Leipzig, Jerman yang tengah membutuhkan jasa seorang penerjemah di sebuah rumah sakit di Kediri saat terjadi maraknya penyemaian benih-benih ‘revolusi’ yang didengungkan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi-organisasi pendukungnya.

Amba yang sebetulnya telah bertunangan dengan Salwa Munir tak dapat menahan gejolak cintanya kepada Bhisma hingga akhirnya setelah peristiwa G 30 S meletus di Jakarta, Bhisma menghilang seakan tercerabut dari kehidupan Amba. Puluhan tahun setelahnya, Amba memberanikan diri untuk menghadapi kebenaran dan kenyataan dengan pergi ke Pulau Buru, tempat para tahanan politik Orde Baru menjalani hukuman demi menemui cinta sejatinya. Meski pada akhirnya yang dapat ia temui hanyalah tempat persemayaman terakhirnya serta surat-suratnya yang tak pernah sampai.

Novel ini merupakan roman dengan antagonis berupa force majeure keadaan politik yang memanas dan situasi keamanan yang tak menentu. Dengan teknik penulisan komposisi dan alur yang sulit ditebak, Laksmi Pamuntjak seakan tak ingin terburu-buru dalam menyelesaikan karya yang memadukan drama pewayangan yang telah mendarah daging dalam budaya Jawa dengan penelusuran sejarah peristiwa kelam bangsa Indonesia ini.

‘Amba’ merupakan sebuah karya yang menambah sudut pandang terhadap peristiwa tragis dalam sejarah Indonesia. Direkomendasikan untuk mereka yang menikmati fiksi sejarah dengan muatan budaya dan drama romantik.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

5 thoughts on “‘Amba’ (Laksmi Pamuntjak): Drama Cinta di Antara Konflik Nasional

  1. Wah, bisa dibaca barengan tuh, apalagi karena keduanya mengangkat tema serupa dan plot yang mirip.

    Keduanya bagus, tapi secara keseluruhan saya lebih suka ‘Pulang’ yang menurut saya lebih kaya dari segi konten dan penggarapan alur yang lebih memikat dibanding ‘Amba’.

    Like

  2. Karena penasaran, aku lihat-lihat isi Amba. Gaya penulisannya lebih poetis ya? Gaya penulisan Leila lebih “bersih,” padat, dan jelas. Mungkin karena Laksmi adalah penyair dan Leila adalah wartawan.

    Semuanya tergantung selera…

    Liked by 1 person

  3. Yap setuju banget.. Gaya penulisan Laksmi Pamuntjak lebih puitis, penuh metafora dan simbol. Berbeda dengan gaya penulisan mengalir a la jurnalistik khas Leila S. Chudori. Keduanya punya style tersendiri..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s