Kisah Bertahan Hidup Para Pelarian Politik pada ‘Pulang’ (Leila S. Chudori)

Tragedi kemanusiaan Gerakan 30 September 1965 yang berujung pada perburuan dan penangkapan pihak-pihak yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang di kemudian hari menciptakan diskriminasi sistematis terhadap keluarga eks tahanan politik (tapol) memang tidak akan pernah habis untuk digali dan diulas. Setelah beberapa karya sastra terbit dengan mengusung latar belakang ini, novel ‘Pulang’ karya Leila S. Chudori menawarkan sudut pandang berbeda dalam mengisahkan peristiwa kelam dalam sejarah bangsa Indonesia itu.

Novel pemenang Khatulistiwa Literary Award 2013 ini mengisahkan Dimas Suryo, seorang jurnalis muda yang petualangan politiknya kerap bersinggungan dengan ‘orang-orang kiri’ meskipun ia tidak pernah merasa memihak ke salah satu sisi. Namun justru karena ketidak-berpihakannya itulah, ia menjadi salah satu orang yang diburu untuk ‘diinterogasi’ dan ‘diamankan’ bersama dengan semua pihak yang pernah berhubungan dengan golongan kiri. Dimas, yang tengah menghadiri Konferensi Jurnalis Internasional karena permintaan sahabatnya Hananto Prawiro yang kemudian hari ditangkap, terpaksa menyelundup ke berbagai negara hingga akhirnya berlabuh dan menetap di Paris bersama ketiga kawannya yang juga pelarian: Nugoroho, Risjaf, dan Tjai.

Setelah mendengar penangkapan dan pembuangan para aktivis yang dianggap berkaitan dengan peristiwa berdarah tersebut serta semakin kuatnya pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Jenderal Soeharto, Dimas dan ketiga kawannya yang telah dicabut paspornya harus rela mengubur impian untuk dapat pulang ke tanah air tempat mereka dibesarkan dan merasa kembali seutuhnya. Beruntungnya, pertemuan Dimas dengan Vivienne Deveraux pada saat demonstrasi besar-besaran di Paris tahun 1968 mewarnai kehidupannya di negeri antah-berantah hingga akhirnya mereka menikah dan kelak anak pertama mereka lahir, Lintang Utara Suryo.

Menjadi eksil politik yang menerima suaka tidaklah mudah. Usaha bertahan hidup para pelarian itu menemui babak baru ketika empat sekawan itu memutuskan untuk mendirikan sebuah restoran bercita-rasa Nusantara yang diberi nama Empat Pilar Tanah Air, dengan Dimas bertindak sebagai kepala koki. Usaha tersebut akhirnya membawa hasil yang gemilang berkat talenta Dimas serta keseriusan kawannya dalam menggarap restoran tersebut. Meskipun ironisnya, restoran mereka justru dikucilkan oleh KBRI maupun pejabat pemerintahan yang berkunjung karena dianggap ‘restoran orang-orang PKI’ yang patut dihindari.

Cerita kemudian melompat puluhan tahun ketika Lintang yang telah dewasa dan berkuliah di Universitas Sorbonne diberi tugas akhir oleh profesornya untuk membuat sebuah dokumenter yang lekat dengan kehidupannya namun begitu dihindarinya selama ini, kisah ayahnya yang merupakan pelarian politik setelah tragedi G 30 S. Tugas akhir itu membawanya menuju negeri asal ayahnya yang bertepatan dengan kerusuhan Jakarta Mei 1998 dan jatuhnya Orde Baru selama 32 tahun berkuasa. Pembuatan dokumenter itu ternyata tidak hanya mengungkap diskriminasi yang dialami para keluarga eks tapol, tetapi juga menyibak sekelumit kisah masa lalu ayahnya yang menjadi penyebab perceraian kedua orangtuanya.

Novel ini terasa begitu lengkap, menyeluruh, sekaligus estetik dan menyentuh. Di dalamnya tidak hanya memuat penelusuran sejarah yang mumpuni, tetapi juga drama keluarga, cinta dan pengkhianatan, kemanusiaan, serta perjuangan bertahan hidup para pelarian yang mendambakan pulang ke tanah air namun tak diinginkan negaranya. Muatan sosial-budaya yang kental, diskusi sastra yang memukau, hingga perdebatan ideologi dan idealisme yang dijelaskan dengan mengalir disisipkan oleh Leila begitu memikat sehingga pembaca tidak akan merasa terbebani ketika membacanya.

Keragaman tema yang diangkat dengan teknik penulisan dengan plot maju-mundur justru membuat karya ini semakin memikat dan membuat pembaca tidak akan sanggup meletakkannya sebelum selesai. ‘Pulang’ merupakan karya Leila S. Chudori yang paling ambisius sekaligus juga membuktikan bahwa dirinya termasuk dalam jajaran novelis paling andal di Indonesia.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

7 thoughts on “Kisah Bertahan Hidup Para Pelarian Politik pada ‘Pulang’ (Leila S. Chudori)

  1. Wah, kayaknya Pulang bagus sekali ya? Aku jadi semangat banget baca tahun ini. Tampaknya ini masterpiece Leila pula.

    Aku sudah baca dua kumpulan cerpennya Malam Terakhir dan 9 dari Nadira. Skala kumpulan cerpennya lebih mengarah ke hubungan keluarga dan gak seambisius Pulang.

    Like

  2. Iya, memang bagus banget. Teknik penulisannya mencerminkan riset sejarah yang kuat, tetapi dengan plot yang tetap mengalir, sehingga pembaca tetap merasa ringan membacanya.

    Wah, sepertinya saya jadi mau coba baca karya Leila lainnya..

    Like

  3. Kamu secara keseluruhan suka cerpen ga? (Kayaknya sih iya, soalnya kamu kan mau baca semua cerpen Kompas)

    Kalo kamu lebih suka novel daripada cerpen, gw rekomendasikan 9 dari Nadira karena cerpen-cerpennya saling berhubungan. Bahkan lebih berasa seperti “family saga” daripada cerpen-cerpen yang tidak berhubungan.

    Liked by 1 person

  4. Hi, thanks ya rekomendasinya. Saya sudah baca “Nadira” (extended version dari “9 dari Nadira”) dan secara umum saya suka. Nanti saya share review saya juga untuk kumpulan cerpen itu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s