Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer): Rekam Peristiwa Periode Kebangkitan Nasional Indonesia

"Tetralogi Buru" terbitan Hasta Mitra (1980)

“Tetralogi Buru” terbitan Hasta Mitra (1980)

Kebangkitan nasional setiap bangsa di seluruh dunia tidaklah serta-merta terjadi dalam satu malam, melainkan merupakan sebuah proses panjang dan menyeluruh serta terjadi dalam rentang waktu yang bisa jadi tidak singkat. Begitupun halnya dengan Indonesia, kebangkitan kolektif bangsa-bangsa yang terjajah di bawah kedaulatan pemerintah kolonial Hindia-Belanda tidaklah terjadi hanya karena berdirinya satu organisasi yang kelak kita rayakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei. Kebangkitan nasional terjadi sebagai periode yang dimulai dari pergerakan awal melalui penyebaran ideologi dan paham kemerdekaan yang kemudian terus-menerus bergulir hingga akhirnya mewujudkan negeri Indonesia yang bangkit dan merdeka di atas tanah-air sendiri.

Barangkali, dengan semangat inilah Pramoedya Ananta Toer melukiskan perjuangan anak bangsa pada periode tersebut di dalam mahakaryanya, Tetralogi Buru. Tokoh utama yang diceritakan adalah Raden Mas Minke, seorang pribumi terpelajar anak seorang bupati yang berambisi menyebarkan gagasan kebangkitan dan kemerdekaan di tanah Hindia. Sang protagonis ini diilhami oleh tokoh nyata, Raden Mas Tirto Adhi Suryo (T.A.S), seorang aktivis pers dan organisasi nasional yang pernah mengenyam pendidikan di STOVIA (School tot Opleiding van Indlansche Artsen; Sekolah Dokter untuk Pribumi), yang jasa dan kontribusinya di bidang pergerakan nasional terlupakan oleh sejarah bangsa ini.

Tetralogi Buru disebut demikian karena proses penulisannya terjadi selama masa pengasingan Pramoedya sebagai tahanan politik (tapol) tanpa sebelumnya melalui proses pengadilan di Pulau Buru, Kepulauan Maluku. Sebelum hak menulisnya dipulihkan, ia yang memang telah merencanakan sejak lama penulisan buku ini mengisahkan cerita ini kepada rekan-rekannya sesama tapol di Pulau Buru.

Hal ini mungkin dapat menjelaskan betapa istimewa dan monumental karyanya ini dibanding karya lainnya. Bahkan setelah proses penulisan dan penerbitan, karyanya ini dilarang terbit, ditarik dari peredaran, dan dihanguskan dengan tuduhan menyebarkan paham Marxisme-Leninisme dan komunisme oleh Jaksa Agung semasa Orde Baru. Meski demikian, beberapa naskah yang berhasil diselamatkan, akhirnya ‘diselundupkan’ ke luar negeri untuk diterjemahkan dan diterbitkan hingga akhirnya menjadi salah satu karya sastra yang diakui dan kontribusi terbesar Indonesia bagi sastra dunia.

Pram (panggilan akrab Pramoedya) menggambarkan ketiga buku pertama dari tetralogi ini (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah) sebagai sebuah catatan dari sang protagonis, Minke. Sedangkan di akhir, tertralogi ini ditutup dengan cukup mengejutkan, dimana pada buku keempat Rumah Kaca, narasi berpindah ke seorang komisaris polisi pribumi asal Manado, Jacques Pangemanann yang bertugas mengawasi pergerakan Minke serta organisasi yang dibentuknya. Pembagian ini juga merupakan periodisasi Minke dalam usahanya membangun pergerakan nasional.

"Tetralogi Buru" terbitan Lentera Dipantara (2005)

“Tetralogi Buru” terbitan Lentera Dipantara (2005)

Pada Bumi Manusia, diceritakan bahwa Minke yang merupakan seorang Jawa priyayi mendapatkan keistimewaan dibanding saudara sebangsanya, yakni dapat mengenyam pendidikan Eropa di HBS (Hogere Borger-School; setara SMA) dan melanjutkan ke perguruan tinggi STOVIA. Meskipun demikian, posisinya sebagai seorang pribumi tetaplah dipandang rendah oleh orang Eropa, asli maupun keturunan. Minke yang semula mengagungkan Eropa karena tingginya peradaban mereka, akhirnya harus dikecewakan oleh perilaku diskriminatif yang ia alami dan ia pun menyadari bahwa lebih banyak saudara sebangsanya yang mengalami hal yang jauh lebih parah dibanding yang ia alami.

Kesenjangan struktur sosial, diskriminasi rasial, serta masuknya pengaruh modernisasi dari pendidikan Eropa membuat Minke tersadar akan posisi, pengaruh, dan tanggung-jawabnya sebagai seorang terpelajar, hingga ia memutuskan untuk melawan semua ketidakadilan itu. Bukan dengan perlawanan bersenjata, tetapi melalui tulisan untuk menyebarkan gagasan pergerakan nasional. Tekad ini semakin kuat berkat pertemuannya dengan seorang gundik yang tak biasa, Nyai Ontosoroh.

Kisah berlanjut pada Anak Semua Bangsa yang menggambarkan proses observasi Minke terhadap kalangan masyarakat bawah dan ia dihadapkan akan dengung kebesaran peradaban Eropa dibandingkan kenyataan yang dialami penduduk Hindia-Belanda. Observasi turun-gunung, pertemuan dengan aktivis pergerakan Tiongkok, dan revolusi yang terjadi pada bangsa-bangsa yang terjajah di belahan dunia lain semakin membulatkan tekadnya untuk menyampaikan sebanyak-banyaknya gagasan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial kepada saudara sebangsanya.

Pada Jejak Langkah, Minke semakin giat menyampaikan idenya lewat surat kabar yang didirikannya “Medan” (terinspirasi dari “Medan Priyayi” surat kabar bentukan Raden Mas T.A.S). Minke menyerukan masyarakat untuk memboikot pemerintah kolonial, berorganisasi, dan menghapus feodalisme.

Tetralogi epik ini diakhiri oleh Rumah Kaca yang mengisahkan usaha pemerintah kolonial untuk membungkam Minke dalam upaya penyebaran gagasan untuk melawan kolonialisme. Berbeda dengan tiga buku sebelumnya, buku terakhir ini dinarasikan oleh karakter yang berbeda, yakni Jacques Pangemanann seorang komisaris polisi pribumi asal Manado yang bekerja untuk pemerintah Hindia-Belanda. Pram menggambarkan karakter Pangemanann sebagai seorang yang berhati dan bermuka dua, di satu sisi ia amat mengagumi pribadi Minke sebagai seorang pribumi yang ingin membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan, namun di sisi lain justru ia-lah yang mengirim Minke ke pembuangan demi melanggengkan jabatannya.

Gaya penulisan Pram dalam tetralogi ini akan melempar kita kembali ke masa dimana bibit-bibit awal pergerakan dan kebangkitan nasional tumbuh dengan beragam problema dan polemik yang dihadapi setiap lapisan masyarakat Hindia-Belanda. Melalui penelusuran dan riset sejarah yang bukan main-main, roman ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengenal lebih dalam arti perjalanan sebuah bangsa dan negara.

Saya meyakini kisah ini akan terus melekat di hati pembaca Indonesia dan dunia, dan bukan tak mungkin bila di kemudian hari menjadi salah satu karya sastra klasik Indonesia yang paling bermakna dan bernilai tinggi.

Review ini merupakan bagian dari:

Indonesian LiteratureIndonesian Literature Reading Challenge

Advertisements

One thought on “Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer): Rekam Peristiwa Periode Kebangkitan Nasional Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s