Indonesian Literature Reading Challenge

Indonesian Literature

[Image Courtesy of PLR Express]

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tergolong masih muda dari segi usia. Kemunculannya diperkirakan sejak abad ke-19 hingga awal abad-20 dan berasal dari lingua franca Bahasa Melayu yang berkembang pesat di wilayah Hindia-Belanda pada periode tersebut. Dalam proses perkembangannya bahasa ini juga mengalami asimilasi dengan beragam kosakata dari bahasa lainnya seperti Sansekerta, Arab, Belanda, Inggris, hingga bahasa daerah asli Indonesia.

Meskipun usianya tergolong muda, Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia telah berperan besar dalam kemajuan di bidang sosial-budaya, kemasyarakatan, dan tentu saja sastra. Sastra Indonesia sendiri praktis merupakan segala jenis karya sastra bangsa Indonesia yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Secara kronologis, perkembangan sastra Indonesia yang berakar dari sastra Melayu yang sebelumnya telah ada di Nusantara dapat dibagi menjadi beberapa periode dan angkatan sastra. Pembagian ini telah menjadi topik yang hangat diperbincangkan, baik oleh kalangan sastrawan maupun sejarawan dan budayawan.

Di tahun 2015 ini, saya memiliki target pribadi untuk membaca setidaknya 20 buku sastra Indonesia yang tergabung dalam Indonesian Literature Reading Challenge. Berikut beberapa karya sastra Indonesia di tiap periode/angkatan yang saya harap bisa saya baca di reading challenge ini.

1. Sastra Pujangga Lama & Sastra Melayu Lama

Bahasa Melayu merupakan bahasa yang telah dipergunakan warga Melayu di pulau Sumatera (terutama Riau dan pesisir Sumatra Timur) dan kemudian menyebar dan berkembang hingga menjadi lingua franca di Batavia pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Penyebaran itu menyebabkan penuturnya tidak lagi hanya dari Sumatra, tetapi juga hampir seluruh etnis dan suku bangsa yang ada di Hindia-Belanda, termasuk bangsa Eropa (terutama Belanda dan peranakan Indo-Eropa) dan etnis Tionghoa.

Berikut beberapa karya sastra penting pada masa ini yang menjadi target bacaan saya.

  • Gurindam Dua Belas (Raja Ali Haji)
  • Cerita Nyai Dasima (G. Francis)
  • Cerita Si Conat (F.D.J. Pangemanan)
  • Nyai Isah (F. Wiggers)
  • Cerita Oey See (Thio Tjin Boen)
  • Busono (R.M. Tirto Adhi Suryo)

2. Angkatan Balai Pustaka

Pendirian Balai Pustaka sebagai lembaga sastra dan penerbit buku oleh pemerintah Hindia-Belanda di tahun 1920-an telah melahirkan sejumlah karya sastra berbahasa Melayu yang memiliki peran penting dalam perkembangan awal sastra Indonesia. Di saat berkembangnya Balai Pustaka, terjadi pergeseran bentuk karya sastra dari syair, gurindam, dan hikayat pada masa kejayaan sastra Melayu Lama menjadi novel, roman, dan cerita pendek. Sebagian besar pengarang Balai Pustaka berasal dari Sumatra (terutama dari Minangkabau/Sumatra Barat), tempat awal mula menyebarnya Bahasa Melayu.

Sejumlah karya penting angkatan Balai Pustaka adalah sebagai berikut.

  • Azab dan Sengsara (Merari Siregar)
  • Sitti Nurbaya (Marah Rusli)
  • Tanah Air (Muhammad Yamin)
  • Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar)
  • Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sutan Sati)
  • Salah Asuhan (Abdul Muis)
  • Si Doel Anak Jakarta (Aman Datuk Madjoindo)
  • Pertemuan (Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati)

3. Angkatan Pujangga Baru 

Sebagai reaksi atas sensor ketat yang dilakukan Balai Pustaka, sekelompok sastrawan yang dipelopori Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Tengku Amir Hamzah (seluruhnya berasal dari Sumatra) akhirnya mendirikan lembaga sastra dan penerbitan majalah “Pujangga Baru”. Hal ini sekaligus menandai berdirinya angkatan baru dalam sejarah sastra Indonesia. Karya sastra yang berkembang pada periode ini terutama mengusung nasionalisme, romantisme, dan perbenturan antara modernitas dengan budaya adat-istiadat.

Berikut karya sastra penting yang dihasilkan oleh angkatan ini.

  • Belenggu (Armijn Pane)
  • Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana)
  • Anak Perawan di Sarang Penyamun (Sutan Takdir Alisjahbana)
  • Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (HAMKA)
  • Di Bawah Lindungan Kabah (HAMKA)
  • Madah Kelana (Sanusi Pane)
  • Percikan Permenungan (Roestam Effendi)
  • Rindu Dendam (J.E. Tatengkeng)

4. Angkatan 1945

Sastrawan pada periode ini tidak hanya dipersatukan oleh harapan besar akan kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga akan kemerdekaan dan kebebasan dalam berekspresi dalam sastra. Berbeda halnya dengan angkatan pendahulunya, Pujangga Baru yang mengusung idealisme-romantisme, Angkatan ’45 mengusung realisme peristiwa aktual pada masa itu. Chairil Anwar merupakan sastrawan yang paling berpengaruh dan dianggap sebagai pelopor angkatan ini berkat puisinya yang ‘meledak’ dan berapi-api, di samping Idrus dan Achdiat Karta Mihardja di penulisan prosa.

Beberapa karya penting yang dihasilkan angkatan ini adalah:

  • Tiga Menguak Takdir (Chairil Anwar, Sanusi Pane, Rivai Apin)
  • Deru Campur Debu (Chairil Anwar)
  • Aku Ini Binatang Jalang (Chairil Anwar)
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (Idrus)
  • Atheis (Achdiat Karta Mihardja)
  • Tambera (Utuy Tatang Sontani)

5. Angkatan 1950 – 1960 dan Angkatan 1966

Pada periode ini terjadi kemelut sastra antara sastrawan yang di kemudian hari tergabung dalam “Manifesto Kebudayaan” yang mengusung tema humanisme universal (seperti H.B. Jassin dan Mochtar Lubis) dengan sastrawan ” golongan kiri” yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang mengusung tema realisme sosial (seperti Pramoedya Ananta Toer) hingga berakhir pada penangkapan sebagian besar sastrawan Lekra sebagai reaksi dari peristiwa Gerakan 30 September oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Karya-karya sastra pada masa polemik ini antara lain.

  • Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis)
  • Senja di Jakarta (Mochtar Lubis)
  • Perburuan (Pramoedya Ananta Toer)
  • Di Tepi Kali Bekasi & Kranji-Bekasi Jatuh (Pramoedya Ananta Toer)
  • Bukan Pasar Malam (Pramoedya Ananta Toer)
  • Cerita dari Blora (Pramoedya Ananta Toer)
  • Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer)
  • Keluarga Gerilya (Pramoedya Ananta Toer)
  • Tetralogi Buru (Pramoedya Ananta Toer); terbit pertama kali tahun 1980 dan kemudian dilarang terbit
  • Pertempuran dan Salju di Paris (Sitor Situmorang)
  • Tahun-Tahun Kematian (Ajip Rosidi)
  • Robohnya Surau Kami (Ali Akbar Navis)
  • Kemarau (Ali Akbar Navis)
  • Priangan Si Jelita (Ramadhan Karta Hadimadja)
  • Balada Orang-Orang Tercinta (Rendra)

6. Sastra Periode 1970 – 1980an dan 1990an

Setelah runtuhnya sastra realisme sosial yang diusung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada saat pecahnya pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1965, karya sastra dengan beragam aliran dan genre seakan mengalir tak terbendung dari tangan para pengarang, mulai dari surealistik, humanisme, hingga ekspresionisme. Pada periode ini banyak bermunculan karya puisi dari beragam penyair dengan karakter yang kuat seperti Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Ajip Rosidi, dan Rendra di samping juga prosa dari novelis dan cerpenis seperti Umar Kayam, Putu Wijaya, Danarto, Iwan Simatupang, Kuntowijoyo, Budi Darma, Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) dan Ahmad Tohari.

Karya sastra penting pada periode ini antara lain:

  • Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (Taufik Ismail)
  • O, Amuk, dan Kapak (Sutardji Calzoum Bachri)
  • Dukamu Abadi (Sapardi Djoko Damono)
  • Parikesit (Goenawan Mohammad)
  • Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (Goenawan Mohammad)
  • Ziarah (Iwan Simatupang)
  • Godlob (Danarto)
  • Olenka (Budi Darma)
  • Burung-Burung Manyar (Yusuf Bilyarta Mangunwijaya)
  • Para Priyayi (Umar Kayam)
  • Khotbah di Atas Bukit (Kuntowijoyo)
  • Bila Malam Bertambah Malam (Putu Wijaya)
  • Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari)
  • Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi AG)
  • Pada Sebuah Kapal (Nh. Dini)
  • Ali Topan Anak Jalanan (Teguh Esha)
  • Ca Bau Kan (Remy Sylado)
  • Anak Bajang Menggiring Angin (Sindhunata)

7. Angkatan 2000

Karya sastra pada dekade 2000-an didominasi oleh prosa seperti novel dan cerpen yang mengusung tema beragam seperti humanisme, spiritualisme, fiksi sains, realisme, hingga romantisme di samping karya-karya populer metropolitan (metro-pop). Beberapa karya fenomenal seperti Tetralogi Laskar Pelangi (Andrea Hirata) dan Seri Supernova (Dewi Lestari) lahir pada periode ini, selain karya sastra bernilai lainnya yang dihasilkan pengarang berbakat seperti Ayu Utami, Agus Noor, dan Seno Gumira Ajidarma.

Beberapa karya sastra penting pada periode ini yang menjadi target bacaan saya selanjutnya adalah:

  • Dwilogi Saman & Larung (Ayu Utami)
  • Memorabilia (Agus Noor)
  • Ayat-Ayat Cinta (Habiburrahman El-Shirazy)
  • Ketika Cinta Bertasbih (Habiburrahman El-Shirazy)
  • Seri Supernova (Dewi Lestari)
  • Biola Tak Berdawai (Seno Gumira Ajidarma)
  • Kitab Omong Kosong (Seno Gumira Ajidarma)
  • Tetralogi Laskar Pelangi (Andrea Hirata): Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov
  • Amba (Laksmi Pamuntjak)
  • Pulang (Leila S. Chudori)
  • Trilogi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara (Ahmad Fuadi)

Daftar bacaan yang cukup panjang, semoga bisa terselesaikan di tahun ini. Selamat Membaca! 🙂

N.B: * tulisan bercetak tebal sudah pernah saya baca sebelumnya.
Advertisements

21 thoughts on “Indonesian Literature Reading Challenge

  1. Salam kenal Diaz! Thanks for leaving comment and give recommendation. Bbrp kali saya liat juga buku2 Okky Madasari tetapi blm pernah baca, nanti saya coba..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s